Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Sukun Samping
Sukun Samping

OPINI

Terorisme dan Keamanan Ideologi Negara

Andita Belva Putra *)

TINDAK terorisme merupakan tindak kejahatan yang menjadi sorotan utama saat ini bagi negara-negara di dunia. Aksi terorisme merupakan bentuk dari radikalisme yang menjadikan rasa khawatir bagi seluruh masyarakat. Aksi terorisme perlu upaya yang serius untuk mencegahnya. Tindak terorisme sangat mengancam keselamatan siapapun.

Selain menyerang warga sipil, terorisme juga menyerang militer atau pertahanan suatu negara dengan tujuan mengubah ideologi suatu negara. Sejarah terorisme terbesar yang pernah terjadi di Indonesia adalah tragedi di Bali pada tahun 2002. Pengeboman di Bali terjadi karena para pelaku merasa tidak suka atau merasa benci kepada Amerika Serikat, mengingat terjadinya bom Bali tidak jauh dari peristiwa yang terjadi di Gedung World Trade Centre atau WTC.

Setelah terjadinya peristiwa bom Bali, banyak teror-teror bermunculan seperti di Kedutaan Besar Amerika Serikat yang berada di Jakarta. Selain itu, pada tahun 2003 pada awal pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden RI tersebut menjadi sasaran dari kelompok teroris tertentu.

Peristiwa terorisme yang pernah terjadi di Indonesia beberapa tahun yang lalu dan mampu menggemparkan seluruh masyarakat Indonesia bahkan hingga masyarakat internasional adalah peristiwa pengeboman Thamrin, Jakarta. Para pelaku melakukan pengeboman di Starbuck Coffe dan menyerang pos polisi yang ada di Thamrin.

Aksi pengeboman tersebut mendapat perlawanan dari aparat kepolisian hingga terjadi baku tembak yang cukup dramatis. Akibat dari peristiwa Thamrin tersebut dilaporkan terdapat beberapa korban jiwa baik dari pihak aparat polisi maupun dari pelaku bom bunuh diri tersebut. Dari hal tersebut dapat dikatakan bahwa terorisme merupakan aksi yang dapat meengancam nilai-nilai kemanusiaan.

Minggu, 28 Maret 2021 telah terjadi ledakan di Gereja Katedral, Makassar, Sulawesi Selatan. Ledakan tersebut berasal dari bom bunuh diri yang dilakukan oleh dua orang pelaku. Akibat dari serangan bom tersebut membuat masyarakat sekitar shock dan menyebabkan puluhan orang terluka serta menyebabkan dua pelaku bom bunuh diri tersebut meninggal ditempat kejadian. Meskipun bagian dalam dari Gereja Katedral tidak mengalami kerusakan, namun akibat dari kejadian tersebut membuat masyarakat trauma.

Dilansir dari CNCB Indonesia, Kapolri Jendral Listyo Sigit mengatakan bahwa pelaku merupakan teroris jaringan JAD yang memiliki hubungan dengan peristiwa pengeboman Gereja Katedral Jolo di Filipina pada 2018 lalu. Listyo juga menyebut bahwa pelaku menggunakan bom panci dalam melakukan aksinya.

Setelah tragedi ledakan bom bunuh diri yang terjadi di Gereja Katedral, polisi telah menangkap empat orang tersangka yang tergabung dalam Jamaah Ansharut Daulah (JAD). Menanggapi peristiwa tersebut, Presiden RI Joko Widodo mengatakan bahwa apapun motif terorisme tidak dibenarkan dalam agama. Jaringan terorisme baik di Indonesia maupun di luar Indonesia menganggap bahwa aksi terorisme adalah sebagain dari jihad dan mereka memperbolehkan membunuh seseorang yang tidak sepemahaman dengan mereka.

Padahal hal tersebut sangat bertentangan dengan ajaran agama apapun khususnya ajaran Agama Islam yang mengajarkan perdamaian. Seluruh tokoh agama di Indonesia mengutuk atas kejadian bom bunuh diri di Gereja Katedral. Para tokoh agama mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk selalu waspada dan tidak terprovokasi.

Aksi teror tersebut adalah salah satu upaya untuk mempecah belah antarumat beragama yang pastinya akan sangat bahaya untuk kehidupan Negara Indonesia mengingat di Indonesia terdiri dari berbagai agama. Para teroris sebenarnya ingin mengganti ideologi Pancasila menjadi negara khilafah.

Namun, Jika Pancasila diganti maka Negara Indonesia akan kehilangan jati dirinya, mengapa bisa kehilangan jati diri?. Karena Pancasila adalah ideologi yang paling cocok untuk Indonesia yang mempunyai beragam suku, ras, budaya dan agama.

Sedangkan agama adalah suatu hal yang bukan pemaksaan, agama adalah sebuah keyakinan seseorang dalam pribadinya sendiri. Dewasa ini, banyak sekali kegiatan yang merugikan yang mengatasnamakan kegiatan keagamaan untuk kepentingan pribadi,selain itu juga banyak kelompok yang berlomba menjelek jelekkan agama lain. Hal tersebut pastinya menjadi kasus yang sangat serius untuk Indonesia yang memiliki ideologi Pancasila.

Ideologi pancasila adalah ideologi yang paling pas untuk Indonesia dan tidak bisa diganti. Mengapa hal tersebut bisa terjadi?.

Untuk menjawab tersebut kita harus melihat tiga dimensi yang dimiliki Pancasila. Dimensi pertama adalah realitas bagi bangsa Indonesia yang menggambarkan keadaan bangsa Indonesia secara nyata. Maksudnya adalah kita dapat melihat bahwa negara Indonesia benar benar memiliki berbagai suku, agama, ras namun hal tersebut tidak membuat pecah belah Indonesia, hal tersebut malah dijadikan keanekaragaman yang khas untuk bangsa kita.

Dimensi yang kedua adalah fleksbilitas. Fleksibel dapat diartikan Pancasila mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa menghilangkan nilai nilai dasar yang terkandungnya. Contohnya adalah banyaknya efek globalisasi yang masuk ke Indonesia akan tetapi kita tidak kehilangan jati diri kita sebagai bangsa Indonesia.

Dimensi yang terakhir adalah dimensi idealitas. Pancasila mempunyai cita-cita  dari seluruh lapisan masyarakat,hal ini membuat Indonesia mempunyai tujuan. Tujuan negara Indonesia tercantum di dalam pembukaan UUD 1945 alinea keempat. Indonesia membutuhkan pijakan yang kuat untuk dijadikan dasar negara. Nilai nilai yang terkandung dalam Pancasila menjadikan Pancasila sebagai dasar negara atau ideologi yang cocok untuk negara Indonesia.

Pada dasarnya semua ideologi yang dimiliki suatu negara memiliki tujuan masing-masing bagi negara yang menganutnya. Akan tetapi tidak semua ideologi cocok dengan keadaan masyarakat di Indonesia mengingat Indonesia adalah negara yang Bhineka Tunggal Ika.

Pancasila memiliki kekuatan untuk menghadapi serangan ideologi negara khilafah yang ingin membuat rusak bangsa Indonesia. Sebagai negara yang besar dan mempunyai keberagaman suku, ras, agama, Indonesia harus bersyukur mempunyai ideologi Pancasila yang membuat semua masyarakatnya hidup rukun tanpa ada perpecahan.

Mengganti ideologi Pancasila dengan ideologi negara khilafah hanya akan menimbulkan masalah baru. Sebagai bangsa yang besar kita tidak perlu mengganti ideologi yang hanya bisa menyebabkan masalah baru. (*)

 

*) Penulis adalah Mahasiswa Universitas Islam Indonesia, Prodi Hubungan Internasional

Comments
Loading...