Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Sukun Samping
Sukun Samping

KTNA Blora Desak Pemerintah Batalkan Rencana Impor Beras

Pekerja memanggul beras Bulog untuk didistribusikan (MURIANEWS/Cholis Anwar)

MURIANEWS, Blora – Ketua Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Blora Sudarwanto, meminta pemerintah mengurungkan niat untuk mendatangkan impor beras. Ia menilai, anggaran untuk impor bisa digunakan untuk menyerap gabah petani melalui Bulog.

“Anggaran untuk rencana impor beras lebih baik diberikan kepada Bulog untuk penyerapan atau pembelian gabah petani yang bulan ini lagi puncaknya panen raya,” kata Sudarwanto, Senin (29/3/2021).

Sudarwanto melanjutkan, dari data yang pihaknya himpun, sejak Februari sampai Maret 2021 harga gabah kering panen (GKP) di Blora tertinggi hanya di angka Rp 4.000 per kilogram. Gabah tersebut hasil panen menggunakan alat combine harvester.

“Panen pakai mesin combine harvester itu harganya antara Rp 3.800 sampai Rp 4.000,” ujarnya.

Sementara panen yang menggunakan mesin manual harganya Rp 3.500, kemudian yang menggunakan power threser cuma Rp 3.600. “Kadar airnya itu antara 25 sampai 30 persen,” terangnya.

Sementara untuk harga gabah kering giling (GKG), berada di kisaran Rp 4.300 sampai Rp 4.500 per kilogram.

Melihat kondisi tersebut, dia berharap agar gabah minimal dibeli sesuai harga pembelian pemerintah (HPP). “Kalau ditanya apakah ada yang dijual di bawah HPP, jawabnya ada,” katanya.

Sementara Kepala Bidang Tanaman Pangan pada Dinas Pertanian Blora Lilik Setyawan mengatakan, sejauh ini hampir setiap tahun produksi beras dari hasil lahan pertanian di Blora surplus. Misalnya saja pada 2020, dari lahan seluas 101.717,2 hektare menghasilkan gabah kering panen 555.884,5 ton.

“Kalau produksi setara beras jadinya 306.125,62 ton,” paparnya.

Sementara, lanjut Lilik, kebutuhan pangan warga Blora hanya sebesar 65.524,65 ton. Artinya, kebutuhan pangan Blora jika dibandingkan dengan jumlah produksi dari lahan pertaniannya masih tersisa banyak.

“Tentu cukup untuk masyarakat dengah masih luasnya lahan pertanian di Blora ” Pungkasnya.

 

Kontributor: Priyo
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...