Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Sukun Samping
Sukun Samping

Simaharaja Jepara Tolak Rencana Pengerukan Pasir Laut di Perairan Balong untuk Tol Semarang-Demak

Pembangunan Jalan Tol Semarang-Demak seksi II di wilayah Sidogemah, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak. (Pemprov Jateng)

MURIANEWS, Jepara – Silaturahmi Mahasiswa Jepara di Jakarta (Simaharaja) menolak rencana  pengerukan pasir laut seluas 2.339 hektare di perairan Balong, Kecamatan Kembang, Jepara.

Simaharaja menyebut, pengerukan pasir laut  tersebut sangat berpotensi merusak lingkungan dan merugikan masyarakat Jepara. Karena itu rencana ini harus ditolak.

Ketua Umum Simaharaja, Alfiana Lufanza,  mengatakan, pengerukan pasir akan merugikan masyarakat  nelayan. Pengerukan yang dilakukan bisa menimbulkan kerugian dan kerusakan pada lingkungan sekitar.

Ada beberapa kerusakan dan dampak negatif yang muncul jika pengerukan pasir laut tetap dilakukan. Kemungkinan  meningkatnya abrasi  dan erosi pantai akan terjadi. Penurunan kualitas air laut juga  bisa terjadi karena yang keruhnya air laut dan mempengaruhi eksosistem laut.

Dampak lebih jauh, bisa saja menimbulkan konflik sosial antara pihak-pihak yang berbeda pendapat dalam isu ini.

“Jadi, kami menyatakan tidak setuju dengan rencana  pengerukan pasir laut ini. Dampaknya bisa  menganggu keseimbangan ekosistem di laut dan merusak laut. Untuk itu kami atas nama Silaturrahmi Mahasiawa Jepara di Jakarta menolak keras rencaba pengerukan pasir di Perairan Balong ini,” ujar Alfiana Lufanza,  yang merupakan mahasiswai UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Minggu (28/3/2021).

Simaharaja juga meminta kepada seluruh jajaran pemerintahan baik Gubenur Jawa Tengah, Bupati Jepara dan semua  lembaga terkait, untuk bisa meninjau kembali rencana ini. Pihaknya meminta agar rencana ini ditinjau ulang, dan mencabut ijin yang sudah terlanjur dikeluarkan.

Pihaknya juga sudah menerima informasi dari Koalisi Pesisir Kendal- Semarang-Demak ( KPKSD) melalui kertas posisi “Maleh Dadi Segoro : Krisis Sosial – Ekologis Kawasan Pesisir Semarang- Demak“ yang telah dilaunching pada Juli 2020.

Informasi tersebut menyebutkan dengan jelas, bahwa salah  salah satu kelemahan Analisa Dampak Lingkungan Tanggul Tol Laut Semarang-Demak (ANDAL TTLSD), adalah tidak detailnya data mengenai sumber material urukan.

Dalam ANDAL tersebut, disebutkan urugan proyek ini membutuhkan 4.161.688 M3 ditambah untuk badan dan bahu jalan sebanyak 124.184 M3. Sehingga dibutuhkan total 4.285.872 M3.

“Dari informasi ini, sumber urugan sebanyak total 4.285.872 m3 rencananya akan diambil dari Kecamatan Pabelan, Bawen, Kabupaten Semarang, Kaliwungu Kabupaten Kendal, dan Kecamatan Totoh Kabupaten Grobogan. Tapi informasi detail mengenai letak desa dan luasan per tempat tidak diberitahu, ” ungkapnya.

“Sekarang, tiba-tiba sumber material urugan berpindah ke laut Jepara. Kami kira pemerintah harus dapat menjelaskan kenapa perairan Balong yang akhirnya dipilih untuk pengerukan pasir ini. Sedangkan proyek pembangunan tol tersebut berada di daerah Demak dan Semarang,” tambahnya.

Sementara itu, proyek TTLSS merupakan salah satu proyek strategis nasional. Proyek ini sudah berlangsung dan diperkirakan akan selesai pada tahun 2022 mendatang untuk Seksi I sepanjang 10,69 kilometer Semarang-Sayung, dan Seksi II sepanjang 16,31 kilometer Sayung-Demak.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jepara, Elida Farikha sebelumnya bahkan sudah menyatakan,  pemberitahuan rencana pengerukan pasir laut di Balong sudah disampaikam Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Pengerukan pasir laut yang akan digunakan untuk kepentingan proyek TTLSD tersebut akan dikerjakan oleh PT Energi Alam Lestari yang ditunjuk sebagai pelaksana.

 

Reporter: Budi Erje
Editor: Supriyadi

Comments
Loading...