Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Sukun Samping
Sukun Samping

Pemuda di Kudus Diajak Jadi Pelopor Kemajuan Bangsa

Iptu Subkhan saat menyampaikan materinya. (MURIANEWS/Istimewa)

MURIANEWS, Kudus – Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Kudus menggelar konfercab XXIX. Diskusi publik dengan tema “Peran Pemuda Dalam Membangun Negara Yang Berdaulat Dan Bermartabat Dengan Berlandaskan Islam Ahlussunnah Wal Jamaah” juga digelar dalam rangkaian acara itu di Aula Gedung PCNU Kudus, Sabtu (27/3/2021).

Serangkaian acara yang digelar selama dua hari itu dibuka oleh Ketua PCNU Kabupaten Kudus H Asyrofi Masyito. Hadir pula, Kepala Unit Keamanan Khusus Satintelkam Polres Kudus Iptu Subkhan yang merupakan penulis buku menutup celah penyebaran ideologi teroris (Mencepit) sebagai narasumber.

Di kesempatan itu Iptu Subkhan mengajak pemuda di Kudus untuk bisa menjadi pelopor dalam memajukan bangsa Indonesia. Menurutnya peran pemuda sangat dibutuhkan oleh bangsa dan negara yang sedang menghadapi disintegrasi, karena penyebaran paham radikalisme dan penyebaran berita hoaks.

“Berdasar data Badan Perencanaan Pembangunan dapat diketahui 63 juta orang dari jumlah penduduk Indonesia adalah pemuda. Tercatat dalam sejarah perjalanan sebuah bangsa di dunia, hampir semua perubahan besar terjadi karena dipicu dan dipelopori gerakan pemuda, jadi peran pemuda sangat penting,” katanya.

Lebih lanjut ia mengatakan, stigma pemuda yang idealis, belum terkotori kepentingan dan terbebani sejarah telah menjadikan pemuda berperan sebagai penyampai kebenaran, agen perubahan dan generasi penerus masa depan.

“Itulah yang menjadikan pemuda tak pernah absen dalam menanggapi setiap terjadinya perubahan tatatan dan perubahan sosial. Ketika di sekitarnya terdapat ketidakadilan, pembodohan dan penindasan hak rakyat,” jelasnya.

Menurutnya, radikalisme dan hoaks akan semakin mengikis nilai-nilai kebhinekaan dan toleransi manakala keduanya dibungkus dengan ajaran agama. Radikalisme telah menyebabkan sikap fanatik dan intoleransi antikebhinekaan, sedangkan hoak itu sendiri telah menjadi media utama penyebaran paham radikal.

Di zaman digital ini, lanjut dia, pemuda diharapkan ikut berperan aktif dalam melawan disintegrasi bangsa yang disebarkan melalui paham radikalisme dan hoaks dengan peran yang nyata.

“Jadilah direct of change atau pelaku perubahan dan jangan hanya jadi agent of change atau agen perubahan saja,” Imbuhnya.

 

Reporter: Yuda Auliya Rahman
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...