Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Sukun Samping
Sukun Samping

Mahasiswa Islam di Kudus Diajak Tangkal Hoaks dan Paham Radikalisme

Diskusi publik yang digelar HMI Cabang Kudus di Hotel @Hom. (MURIANEWS/Istimewa)

MURIANEWS, Kudus – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Kudus menggelar diskusi publik dengan tema “Peran Organisasi Kemahasiswaan dalam Menjaga Kebhinekaan untuk Mewujudkan Kerukunan, Persatuan dan Kesatuan Bangsa” di @Hom Hotel Kudus.

Acara tersebut juga bebarengan dengan pelantikan pengurus HMI cabang Kudus tahun 2021-2021 yang di buka Plt Bupati Kudus HM Hartopo. Kepala Unit Keamanan Khusus Satintelkam Polres Kudus Iptu Subkhan dan Wakil Direktur Pasca Sarjana IAIN Kudus Adri Efferi juga dihadirkan sebagai narasumber.

Iptu Subkhan mengatakan, saat ini ancaman nyata terhadap kerukunan, kebhinekaan, persatuan dan kesatuan adalah penyebaran berita hoaks dan radikalisme. Keduanya nyata, namun terkadang seseorang tidak menyadarinya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan, media sosial (medsos) memiliki peran besar atas informasi yang cepat, termasuk juga informasi yang belum benar kebenarannya atau hoaks. Informasi hoaks sulit dibendung meskipun penuh dengan ujaran kebencian, hasutan, propaganda anti pemerintah dan anti Pancasila.

“Terlebih lagi jika dikemas dengan ajaran agama. Hoaks akan semakin mengikis nilai-nilai kebhinekaan dan toleransi. Saat ini banyak sekali orang mengaku bergama, namun malah menyebarkan ujaran kebencian, caci maki serta hujatan untuk pemerintah dan hukum negara yang bergerak 24 jam tanpa henti di medsos,” katanya.

Menurutnya, agama mengajarkan umatnya untuk mewujudkan harmoni dan keteraturan sosial sebagai bagian dari indikator kesalehan pribadi dan kesalehan sosial. Termasuk dalam sikap beragama yang baik adalah dengan menaati hukum serta peraturan sebagai bentuk kesalehan bernegara.

“Beragama tidak boleh diartikan sekadar sebagai prosesi ritual formal saja. Lebih dari itu, khususnya pemeluk agama Islam tentunya juga tidak hanya mempelajari tentang akidah dan fikih saja, namun juga harus mempelajari tentang tasawuf. Ketiganya harus berjalan beriringan,” ungkapnya.

Namun, jika hanya mempelajari akidah saja maka akan fokus mengenal tuhan dan jika fikih maka akan berkutat dengan aturan yakni berusaha memahami benar dan salah saja. Kemudian jika akidah dan fikih saja maka akan berpotensi menjadi seorang yang berpaham radikal dengan fanatik dan intolerannya.

“Untuk itu kita dituntut juga untuk mempelajari tasawuf agar menjadi bijak dan mengenal akhlak yang baik penuh dengan toleransi. Anak usia dini saat ini sudah dipaksa menelan berita hoaks dan ideologi radikal, itu sangat berbahaya,” ucapnya.

Sementara Wakil Direktur Pasca Sarjana IAIN Kudus Adri Efferi berharap mahasiswa bisa menjadi sarana untuk mewujudkan kerukunan, persatuan dan kesatuan bangsa.

 

Reporter: Yuda Auliya Rahman
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...