Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Jepara Belum Pastikan Sawah Puso Akibat Banjir Pengaruhi Produktivitas Beras atau Tidak, Ini Alasannya

Petani memanen padi miliknya di tengah kepungan banjir. (MURIANEWS/Cholis Anwar)

MURIANEWS, Jepara – Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Jepara mengaku belum bisa memastikan ratusan hektare sawah yang puso atau gagal panen akibat banjir di awal tahun 2021 akan mempengaruhi produktivitas beras atau tidak.

Pasalnya, banjir tersebut berlangsung pada masa tanam (MT) I. Sementara dalam satu tahun masa tanam bisa sampai tiga kali atau MT 3.

“Kami belum bisa memastikan, apakah akan terjadi penurunan produksifitas hasil padi di Kabupaten Jepara. Karena untuk angka produktisivitas hasil panen dihitung secara kumulatif dalam satu tahun,” kata Kepala DKPP Jepara, Diyar Susanto, Senin ( 22/3/2021).

Diyar menyebutkan, jumlah sawah yang puso di Jepara selama banjir jumlahnya mencapai 900 hektare. Kebanyakan, semua mengalami gagal panen karena mengalami puso.

Hanya saja, dalam dua tahun terakhir Kabupaten Jepara selalu mencatatkan surplus untuk produksi padi. Pada tahun 2019, produksi beras secara keseluruhan mencapai angka 149,438 ton.

Pada tahun 2019 itu, angka kebutuhan beras masyarakat Jepara Jepara hanya mencapai 115, 556 ton. Dengan demikian pada tahun 2019 ada angka surplus produksi sebanyak 33,883 ton.

Jumlah produksi yang cukup bagus juga tercatat pada 2020 lalu. Pada tahun 2020, dunia pertanian di Kabupaten Jepara mampu menghasilkan produksi sebanyak 163,221 ton.

Tahun 2020  angka kebutuhan beras masyarakat Jepara sendiri mencapai 118,835 ton. Dengan demikian ada angka surplus beras yang tercatat mencapai 44,384 ton beras.

“Selama dua tahun terakhir produksi beras terus meningkat. Peningkatan surplus selama dua tahun kemarin mencapai 31 persen. Antara tahun 2019 dan 2020, dari angka-angkanya terlihat mengalami kenaikan bagus. Dengan jumlah kebutuhan yang meningkat, angka surplusnya juga mengalami peningkatan pada tahun 2020,” tambah Diyar Susanto.

Sementara itu, terkait dengan kebijakan impor beras yang dilakukan pemerintah, Diyar Susanto menyatakan pihaknya tidak bisa memberikan pernyataan apapun. Hal itu menjadi kewenangan pemerintah, dan tentunya didasarkan dengan berbagai pertimbangan.

 

Reporter: Budi Erje
Editor: Supriyadi

Comments
Loading...