Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Sukun Samping
Sukun Samping

Suluk Maleman: Uzlah Kontekstual untuk Keluar dari Virus Penyakit Hati

 

Anis Sholeh Ba’asyin dalam Suluk Maleman. (MURIANEWS/Istimewa)

MURIANEWS, Pati – Saat ini, dunia tengah dikepung oleh virus corona yang sangat mematikan. Bahkan dalam waktu singkat, orang tidak dapat memfungsikan dengan baik semua indra yang dikiliki.

Kondisi ini menurut Anis Sholeh Ba’asyin, penggagas Suluk Maleman Pati sama halnya dengan orang yang mampunyai penyakit hati, sulit untuk disembuhkan kecuali ada kemauan dalam diri. Kendati sudah diberikan berbagai obat, tetapi tetap saja tidak ada pengaruhnya.

Karena itu, orang yang mempunyai penyakit hati harus segera uzlah. Sama seperti orang yang terinveksi corona, harus segera isolasi agar tidak menular dengan yang lain.

Dua konsep yang mempunyai analogi sama tersebut, menjadi perbincangan hangat dalam Suluk Maleman yang digelar secara daring, Sabtu (20/3/2021). Anis Sholeh Ba’asyin menyebut, pandemi seperti sekarang ini menjadi contoh nyata dan dapat menjadi pembelajaran.

“Ancaman virus banyak membuat orang takut dan panik. Hal itu karena masyarakat takut pada kesehatan fisiknya. Padahal ada virus yang serupa tapi jauh lebih berbahaya. Yakni virus yang masuk ke akal pikiran. Anehnya meski terserang manusia tetap merasa baik-baik saja,” celetuknya.

Harusnya protokol kesehatan dalam mengantisipasi virus juga bisa diterapkan dalam menghadapi virus yang ini. Bagaimana manusia menutup mulutnya, menjaga jarak, maupun menghindari kerumunan. Kerumunan yang dimaksud adalah kabar atau suara yang saat ini tidak karuan.

“Menutup mulut di sini diartikan untuk lebih berhati-hati pada lisannya. Karena khawatir perkataannya bisa menjadi virus kebencian. Sementara dengan menjaga jarak atau tidak terlalu fanatik pada satu kelompok manapun diharapkan agar bisa mengetahui mana kebenaran yang sejati. Bukan benar hanya karena golongannya,” ujarnya.

Sedangkan konsep menjauhi kerumunan adalah dengan tidak mudah terpancing pada kegaduhan yang seringkali terjadi. Terutama saat di media sosial. Konsep inilah yang bisa diartikan bentuk uzlah di masa sekarang. Salah satu caranya yakni tidak mudah nyinyir.

“Media sosial sendiri telah terjadi perubahan fungsi. Dari awalnya sebagai penghubung komunikasi, sekarang telah berganti. Selain untuk interaksi sosial kini menjadi alat pergerakan, alat politik, maupun untuk mengarahkan opini publik. Media sosial telah memberi dampak besar dalam mendorong pergeseran sosial,” tegasnya.

Dikatakannya, setidaknya ada dua cara yang bisa dilakukan agar tidak terseret dalam keruhnya peradaban saat ini. Yakni dengan tidak merasa benar sendiri atau tidak menghakimi hanya berdasarkan pengetahuan pribadi saja.

“Kita pun harus mencoba belajar dari orang lain. Jadi barulah setelah mendapat banyak pertimbangan bisa sedikit meraba benar atau salahnya,” ungkapnya.

Sementara cara kedua yakni dengan membersihkan dan menyucikan hati. Dengan begitu, kejernihan hati itu bisa menjadi cerminan dalam melihat kenyataan yang ada.

“Kita harus bisa menjaga agar virus jiwa itu tidak masuk. Komputer saat kemasukan satu saja bisa rusak, data bisa kocar-kacir. Kalau pandemi mengacaukan peradaban manusia, sementara virus kebencian mengacaukan peradaban rohani,” tutupnya.

 

Reporter: Cholis Anwar
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...