Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Sukun Samping
Sukun Samping

Jadi Miliader Baru, Buruh Garmen di Klaten Terima Ganti Rugi Tol Solo-Yogya Sebesar Rp 2,5 Miliar

Wahyu Tri Hananto, (38), seorang miliarder asal Mendak, Kecamatan Delanggu. (Solopos.com/Ponco Suseno)

MURIANEWS, Klaten – Wahyu Tri Hananto, (38), warga Dukuh Mendak RT 01/RW 02, Desa Mendak, Kecamatan Delanggu Baru menjadi orang kaya baru dengan status miliader. Hal itu terjadi setelah buruh garmen itu menerima ganti rugi Tol Solo-Yogya sebesar Rp 2,5 miliar, Kamis (18/3/2021) pagi.

Pembayaran ganti kerugian dan pelepasan pengadaan tanah Tol Solo-Yogya itu digelar langsung di Balai Desa Mendak, Kecamatan Delanggu, Kamis (18/3/2021) pukul 09.30 WIB. Untuk tahapan pencairan pun berjalan relatif singkat.

Baca: Tanah Kas Desa Kena Tol Solo-Yogya, Pemdes Mendak Klaten Langsung Usulkan Pembebasan ke Gubernur

Panitia pembebasan lahan hanya mencairkan uang untuk tujuh bidang. Sebanyak lima bidang dimiliki warga Mendak dan dua bidang dimiliki warga Kahuman.

“Sawah saya seluas 2.283 meter persegi terdampak jalan tol Solo-Jogya. Itu warisan dari ayah saya. Sawah seluas itu dihargai Rp 2,5 miliar. Per meternya senilai kurang lebih Rp1 juta. Uang Rp 2,5 miliar itu lumayan besar bagi saya yang bekerja sebagai buruh pabrik garmen. Rencananya, uang itu akan saya belikan sawah lagi. Sisanya, ditabung untuk masa depan dua anak saya,” kata Wahyu Tri Hananto, sseperti dikutip Solopos.com, Kamis (18/3/2021).

Wahyu Tri Hananto sebenarnya menginginkan nilai ganti rugi Tol Solo-Yogya lebih tinggi lagi. Semula, dirinya minta UGR hingga Rp 2 juta per meter. Namun tim appraisal menilai sawahnya senilai kurang lebih Rp 1 juta per meter. Lantaran Tol Solo-Yogya merupakan proyek strategis nasional, dirinya memilih untuk menerima sekaligus menyetujui pembebasan lahan tersebut.

Baca: Sama-Sama Ada Kasus Positif, India, Denmark dan Thailand Tetap Main di All England

“Nilai segitu kalau dibilang cukup, ya cukup. Tapi namanya manusia. Tapi, apa boleh buat ini kan untuk mendukung program pemerintah,” katanya.

Meski sudah mengantongi uang Rp 2,5 miliar, Wahyu Tri Hananto mengaku masih kesulitan mencari sawah pengganti. Selain belum menemukan lokasi yang cocok, harga sawah di Mendak juga sudah tinggi.

“Harga pasaran sawah di sini Rp 500 juta per patok. Itu sudah maksimal sebenarnya. Tapi, orang di sini kan tahu kalau saya habis memperoleh uang ganti rugi. Biasanya, yang ingin menjual sawah minta lebih. Saya saat ini masih pikir-pikir juga. Secara lokasi, saya ingin mencari sawah di Mendak,” katanya.

Kepala Kantor Pertanahan Klaten sekaligus Ketua Pelaksanaan Pengadaan Tanah Jalan Tol Solo-Yogya di Klaten, Agung Taufik Hidayat, mengatakan pembayaran ganti rugi di Mendak kali ini dibarengkan dengan pembayaran dua bidang tanah Kahuman, Polanharjo.

Baca: Unik! Pohon Kelapa di Jepara Bercabang Sembilan, Bibit Sempat Dijual Orang Belasan Juta

“Setelah ini, kami akan melanjutkan musyawarah penetapan ganti rugi lagi ke daerah Karanganom,” katanya.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Jalan Tol Solo-Jogya, Wijayanto, mengatakan seluruh masyarakat terdampak Tol Solo-Yogya memperoleh UGR secara utuh alias tanpa potongan. Saat warga sudah memperoleh UGR, para pemilik lahan/sawah dilarang menanami tanaman pertanian lagi.

“Dalam pembayaran ini tak ada potongan sepersenpun,” katanya.

Sebagaimana diketahui, luas tanah di Klaten yang terdampak jalan tol Solo-Jogja berkisar 4.071 bidang atau 3.728.114 meter persegi. Luas tersebut tersebar di 50 desa di 11 kecamatan. Masing-masing kecamatan yang akan dilintasi jalan tol, seperti Polanharjo, Delanggu, Ceper, Karanganom, Ngawen, Karangnongko, Klaten Utara, Kebonarum, Jogonalan, Manisrenggo, dan Prambanan.

 

Penulis: Supriyadi
Editor: Supriyadi
Sumber: Solopos.com

Comments
Loading...