Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Sukun Samping
Sukun Samping

Kubur Budho Jadi Bukti Jejak Peradaban Megalitik di Banjarejo Grobogan

Tim ahli dari BPSMP Sangiran melangsungkan ekskavasi di Desa Banjarejo, Grobogan. (MURIANEWS/Dani Agus)

MURIANEWS, Grobogan – Dugaan adanya kehidupan masyarakat pendukung tradisi megalitik di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan ternyata benar adanya. Ini seiring adanya penemuan kubur budho atau kubur kawak dari hasil penelitian yang dilakukan oleh tim ahli Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran di Desa Banjarejo.

Kepala Desa Banjarejo Ahmad Taufik mengungkapkan, penemuan kubur budho atau kubur kawak terjadi saat tim peneliti melakukan ekskavasi. Di mana, dari tiga titik ekskavasi yang dilakukan, satu titik di antaranya terdapat kubur budho atau kubur kawak.

“Kubur budho atau kubur kawak adalah istilah masyarakat awam untuk menyebut kubur atau makam bertradisi prasejarah, khususnya tradisi megalitik yang terjadi sekitar ratusan tahun lalu,” kata Taufik yang saat ini juga menjabat sebagai salah satu anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Grobogan itu.

Taufik menjelaskan, pada salah kotak ekskavasi ditemukan tulang beserta beberapa gigi manusia yang disertai dengan bekal kubur. Seperti berupa periuk dan beberapa mangkok.

Bekal kubur adalah benda-benda berharga atau benda pribadi dari jenazah selama hidupnya. Ketika mati, benda-benda tersebut disertakan saat penguburan, sebagai bekal pada kehidupan atau perjalanan setelah kematian.

Menurut Taufik, meski sudah ditemukan, namun penggalian kubur budho di kotak tersebut tidak dilanjutkan dan tidak diambil temuan- temuan tersebut. Karena memerlukan penanganan arkeologi yang membutuhkan waktu cukup lama.

Selanjutnya, kubur budho itu dilakukan penutupan dengan metode arkeologi untuk menghindari kerusakan manusia (penggalian liar) serta kerusakan yang mungkin terjadi saat pembukaan kotak kembali.

Jika dilakukan penelitian lanjutan atau kegiatan yang berhubungan dengan keberadaan kubur budho tersebut, dapat dilakukan dengan metode arkeologi yang telah mendapat izin dari BPSMP Sangiran dan dinas terkait.

“Di sisi lain keberadaan tinggalan tradisi megalitik ini dapat melengkapi pengetahuan mengenai budaya manusia yang berkembang di kawasan Banjarejo,” jelasnya.

Taufik menambahkan, kegiatan penelitian tim ahli BPSMP Sangiran itu sudah dilangsungkan sejak Senin (9/3/2021). Penelitian yang dilakukan ini merupakan lanjutan kegiatan serupa yang sudah dilakukan sejak tahun 2016 hingga 2020 lalu. Rencananya, kegiatan penelitian kali ini akan dilangsungkan selama 12 hari.

Sebelumnya, Ketua Tim Penelitian BPSMP Sangiran Wahyu Widianta mengungkapkan, ada beberapa kegiatan yang dilakukan tim selama berada di Banjarejo. Antara lain, melakukan ekskavasi di tiga titik untuk meneliti batas lapisan tanah.

“Untuk lokasi ekskavasi rencanya ditempatkan di Dusun Kuwojo, Dusun Ngrunut dan satu titik lagi di pinggiran sungai Lusi di utara Desa Banjarejo,” jelasnya.

Berikutnya, melakukan penelitian di 12 perbukitan dan satu pinggiran sungai yang selama ini sudah menjadi lokasi penemuan fosil purbakala. Satu agenda lagi adalah mengumpulkan data persepsi dari masyarakat, khususnya pemilik lahan yang jadi lokasi penemuan fosil purbakala.

“Secara garis besar, ada tiga agenda itu yang akan kita lakukan selama melaksanakan kegiatan di Banjarejo. Mudah-mudahan, kegiatan yang kita lakukan bisa berjalan sesuai rencana,” terangnya.

 

Reporter: Dani Agus
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...