Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Polemik The Sato Hotel Kudus, Konsultan Nilai Pembangunan Tak Sesuai Standar

Bangunan The Sato Hotel Kudus yang kini jadi polemik. (MURIANEWS/Yuda Auliya Rahman)

MURIANEWS, Kudus – Pembangunan The Sato Hotel Kudus di Jalan Pemuda, Desa Kramat, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, yang membuat tiga rumah warga di RT 8 RW 3 Desa Kramat rusak,  karena tak memenuhi standar. Sebab, pembangunan hotel tersebut terlalu mepet dengan rumah milik warga tersebut.

Konsultan bangunan dari pihak penggugat (warga) David Widianto mengatakan, semua konstruksi pembangunan hotel tersebut sudah bagus. Namun, langkah-langkah cara pembangunannya dinilai kurang tepat, sehingga menimbulkan dampak berkelanjutan ke rumah sekitar.

Ia menilai, penyebab kerusakan rumah warga, berasal dari sejumlah faktor. Mulai dari pondasinya kurang kuat hingga pembangunannya pun menempel dengan rumah warga sekitar yang tidak sesuai standar.

“Bahkan betonnya nempel dengan dinding tetangga. Ini kalau dibiarkan terus menerus bangunan tetangganya bisa tertarik dan rusak,” katanya, Senin (15/3/2021).

Menurutnya, dalam pembangunan gedung, harusnya antarbangunan diberi celah atau dibatasi. Agar tidak merusak bagunan di sekitarnya. “Dilihat saja dampak yang ditimbulkan saat ini, bangunan hotel itu juga hingga kini pondasinya turun terus,” ujarnya.

Bangunan The Sato Hotel yang nempel dengan rumah warga sekitar. (MURIANEWS/Yuda Auliya Rahman)

Sementara itu, perwakilan hotel sekaligus arsitek pembangunan, Bernardinus Eko mengatakan, sudah melakukan perbaikan terhadap kerusakan yang dialami warga. Perbaikan tersebut sudah dilakukan pada 2020.

“Sudah diperbaiki dua kali, tapi baru jalan sebentar sudah diminta berhenti karena dianggap tidak sesuai,” ungkapnya.

Baca: Tiga Rumah Rusak, Diduga Akibat Pembangunan The Sato Hotel Kudus

Menurutnya, warga memilih ganti rugi berupa uang yang nilainya mencapai Rp 3,5 miliar. Nilai tersebut lebih tinggi dibandingkan perkiraan dari kerusakan yang terjadi.

“Kerusakannya itu ditaksir paling puluhan juta, tapi ini baru dihitung ulang. Permintaan warga kalau tidak salah itu sampai Rp 3,5 miliar,” ujarnya.

Ia menilai, penurunan tanah di lahan seluas 369 meter persegi itu dinilai hal yang normal.  Dan untuk semua perizinan bangunan sudah dikantongi sesuai dengan desain bangunan.

“Gambar desain bangunan dulu memang mepet, kalau gak ada izin ya pasti dihentikan, semua sudah memenuhi syarat perizinan,” pungkasnya.

Baca: Kisruh Pembangunan The Sato Hotel Kudus, Pemkab: Pengembang Sudah Mau Ganti Rugi Tapi Belum Sepakat

Kasus ini sendiri sudah dibawa ke ranah hukum oleh pihak warga. Kepala DPMPTSP Kudus RevlisiantoSubekti mengatakan, pihaknya bersama Dinas PUPR Kudus diminta Pengadilan Negeri Kudus untuk memfasilitasi proses mediasi antarkedua belah pihak. Pihaknya memiliki waktu hingga Kamis (18/3/2021) sebelum perkara dilanjutkan.

Namun, saat mediasi berlangsung tim ahli dan pemilik hotel belum bisa hadir lantaran terbentur dengan jadwal lain. Akhirnya mediasi tersebut pun dihentikan dan akan kembali digelar pada Rabu, (17/3/2021) lusa.

“Pertemuan hari ini belum ada titik temu. Dan sesuai perjanjian tadi akan kembali digelar Rabu lusa,” ungkapnya.

 

Reporter: Yuda Auliya Rahman
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...