Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Sukun Samping
Sukun Samping

Warga Takut ke Faskes karena Pandemi Bikin Data Penderita TBC di Kudus Menurun

Pemegang Program TBC DKK Kudus Andi Purwono menunjukkan data pengidap TBC pada 2020. (MURIANEWS/ Vega Ma’arijil Ula)

MURIANEWS, Kudus – Angka penderita tuberkulosis (TBC) di Kudus pada 2020 menurun jika dibanding 2019. Penurunan tersebut bukan karena tingkat kesehatan masyarakat yang sudah baik.

Melainkan karena masyarakat takut untuk kunjungan ke fasilitas kesehatan (faskes) seperti puskesmas dan rumah sakit akibat pandemi Covid-19.

Pemegang Program TBC Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus Andi Purwono, Senin (15/3/2021) mengatakan, penyebab menurunnya angka TBC bukan karena masyarakat sudah benar-benar terbebas TBC.

“Menurun karena pandemi, sehingga masyarakat takut ke layanan kesehatan. Penjaringan dari kami lewat kader-kader untuk tatap muka guna menemui terduga TBC juga masih pada ketakutan karena pandemi Covid-19 ini,” ujarnya.

Berkaca pada 2019, warga Kudus terduga TBC tercatat ada 5.674 kasus. Sedangkan untuk yang positif terpapar TBC ada 1.580 orang.

Kemudian, di 2020 ada 4.239 terduga kasus TBC. Sementara untuk yang terkonfirmasi positif ada 1.039 kasus.

Sedangkan angka penderita TBC dari Januari-Maret 2021 belum bisa diketahui secara lengkap. Penyebabnya, untuk pendataan dilakukan per tiga bulan sekali. Dan data lengkap diketahui di setiap akhir tahunnya.

“Pada 2021 belum bisa lengkap datanya. Karena laporan itu kami sampaikan ke Kemenkes per tiga bulan. Ini Maret saja belum selesai. Tapi kalau sampai hari ini saja ada 90 orang terkonfirmasi positif TBC,” ujarnya.

Dia menambahkan, pihaknya terus mencari orang terduga TBC sebanyak-banyaknya. Bahkan per tahunnya ada target yang harus dipenuhi.

“Karena untuk mendapatkan standar minimal pelayanan TBC itu harus mencari orang terduga atau suspek TBC sebanyak-banyaknya. Untuk 2019 kami targetkan mencari orang terduga sebanyak 9.952. Sedangkan di 2020 target 10.430 dan di 2021 target 10.430,” terangnya.

Menurut dia, ada beberapa gejala TBC yang harus diperhatikan masyarakat. Mulai dari batuk berdahak, demam, berat badan turun, dan nafsu berkurang.

“Harapan kami pada 2028 mendatang dapat mengeliminasi kasus TBC. Sehingga tidak ada kasus TBC lagi,” imbuhnya.

 

Reporter: Vega Ma’arijil Ula
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...