Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Sukun Samping
Sukun Samping

Tolak Rencana Impor Beras, Petani Pati: Kebijakan Tak Berdasar

Sebagian Petani Pati sudah mulai panen padi. (MURIANEWS/Cholis Anwar)

MURIANEWS, Pati – Rencana pemerintah melakukan impor beras sebanyak satu juta ton untuk menjaga ketersediaan stok di masa pandemi Covid-19 ditolak petani Pati. Sekali pun Kementerian Perdagangan (Mendag) belum menerbitkan surat izin impor tersebut, namun di kalangan petani isu tersebut tengah bergejolak.

Kamelan, salah satu petani di Bumi Mina Tani  mengaku menolak keras rencana impor beras tersebut. Bahkan kebijakan tersebut diakui tidak berdasar. Apalagi, saat ini para petani sedang panen raya.

“Jelas tidak berdasar (rencana impor beras). Saat ini, stok gabah dari petani dalam negeri saja masih melimpah. Di satu daerah selesai panen, di daerah lain malah baru mulai panen. Siklus pertanian kita semacam itu, jadi kalau kekurangan beras, itu sangat tidak berdasar,” katanya, Jumat (12/3/2021).

Dengan siklus yang memasuki masa panen ini, stok beras seharusnya tidak menjadi masalah. Apalagi jarak masa tanam hingga waktu panen, cukup singkat yakni sekitar tiga bulan.

“Melihat kondisi pertanian kita, kalau stok beras 3-5 bulan ke depan masih sangat mencukupi,” terang pria yang juga Ketua Kelompok Petani Pemakai Air di Desa Jambean Kidul, Kecamatan Margorejo itu.

Dia menambahkan, semenjak adanya isu impor beras tersebut, diakui harga beras di kalangan petani maupun pengepul mengalami penurunan drastis. Sebulan lalu, harga beras medium masih Rp 8.300 per kilogram. Tetapi saat ini harganya mengalami menurunan hingga Rp 7.300 per kilogram.

“Seharusnya yang menjadi peehatian pemerintah ini anjloknya harga beras, bukan malah mau impor beras. Kalau harga beras anjlok, harga gabah juga anjlok. Ujung-ujungnya petani yang paling merugi,” tegasnya.

Untuk harga gabah saja, lanjutnya, saat ini sudah mengalami penurunan Rp 800 per kilogram. Gabah yang semula Rp 4.800 per kilogram sekarang hanya Rp 4.000 per kilogram.

“Masalah beras itu seperti mata rantai, kalau harganya remuk, petaninya juga remuk karena biaya produksinya banyak. Belum lagi kalau pupuk subsidi juga langka,” tutupnya.

 

Reporter: Cholis Anwar
Editor: Supriyadi

Comments
Loading...