Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Sukun Samping
Sukun Samping

M Ihdi Fahmi, Ketua Lazisnu Kudus yang Teruskan Perjuangan Ayah Bantu Sesama

Ketua Lazisnu Kudus Muhammad Ihdi Fahmi. (MURIANEWS/Yuda Auliya Rahman)

MURIANEWS, Kudus – Muhammad Ihdi Fahmi (43) namanya, pria yang saat ini tengah menahkodai Lazisnu Kudus. Sosok yang berlatar belakang dari keluarga nahdliyin tersebut menjabat sebagai Ketua Lazisnu sejak akhir 2019 lalu.

Sebelum memimpin Lazisnu Kudus, pria yang bertempat tinggal di Jalan Sunan Kudus, Kecamatan Kota, Kudus Nomor 233 itu, sudah aktif dan dipercaya sebagai bendahara pemegang dana santunan yatama dan fakir miskin semenjak 2015.

“Sebelum saya, bapak saya juga jadi bendahara di NU dan kala itu juga aktif dalam kegiatan santunan yatama dan fakir miskin. Setelah itu Pak Syaroni Suyanto yang saat itu jadi Ketua Lazisnu, karena melihat saya berada di lingkungan sosial NU akhirnya saya  juga diamanahi menjadi bendahara,” katanya, Jumat ( 12/3/2021).

Setelah masa kepemimpinan Pak Syaroni Suyanto habis  pada akhir 2019, dirinya ditunjuk oleh Pimpinan Cabang NU untuk menjadi Ketua di Lazisnu Kudus. Ia mengaku sempat menolak ajakan tersebut, lantaran merasa belum pantas menahkodai suatu organisasi besar.

“Awalnya ya tidak mau, sempat menolak karena saya merasa masih awal ada di organisasi NU dan dulu waktu kuliah itu hanya keorganisasian internal kampus yang saya ikuti. Sampai akhirnya dari pimpinan cabang NU itu bilang ‘sudah dipegang saja nanti kita jalan bareng,” jelas Alumni Teknik Sipil Universitas Islam Indonesia (UII) itu.

Saat awal menjabat dirinya memang belum terlalu fokus terjun dalam keorganisasian yang terjun langsung ke permasalahan sosial. Sampai akhirnya setelah ayahnya meninggal dirinya mendapatkan amanah untuk meneruskan menyalurkan zakat dan membantu sesama.

“Titik awal itu ada amanah dari bapak pas meninggal, untuk menyalurkan zakatnya bapak. Dari amanah itu kemudian saya survei ke beberapa lokasi di sekitar Kudus. Seperti di daerah pegunungan seperti Rahtawu, daerah pedesaan Setrokalangan hingga di daerah perkotaan,” ungkapnya.

di Desa Rahtawu, lanjut Fahmi, masih menemukan seorang perempuan yang tinggal di rumah gubuk seorang diri. Pakaianya pun juga terlihat masih memakai kemben seperti orang-orang zaman dulu.

“Ibu itu tinggal sendiri di rumah yang kurang layak, masih dari gedek (anyaman bambu). Bahkan bukan hanya satu, saya sempat temui ada tiga rumah. Di perkotaan juga sama di Desa Rendeng juga ada rumah yang masih belum berlantai dan temboknya masih batu-bata,” terangnya.

Dari hasil survei itu, dirinya pun berpikir hal tersebut bisa dijadikan sebagai lahan bergerak bagi organisasi sosial seperti Lazisnu Kudus dalam membantu pemerintah memberikan bantuan-bantuan sosial kepada masyarakat yang membutuhkan.

“Setelah ada laporan, kami survei ke lapangan. Setelah dinilai layak akan kami berikan bantuan sosial. Kami juga ada agenda rutin setiap bulan seperti dalam momen keagamaan dengan memberikan santunan kepada yatim piatu dan fakir miskin,” ucapnya.

Hingga saat ini organisasi yang dipimpinya itu, bergerak dalam empat pilar bidang sosial. Yakni pendidikan, ekonomi, kesehatan, dan tanggap bencana. Salah satu program di bidang kesehatan, yakni pemberian kartu sehat untuk marbot masjid.

“Kartu sehat itu untuk berobat gratis bagi marbot masjid ke 20 dokter rujukan di Kudus. Nanti dari dokter biayanya bisa klaim ke Lazisnu. Ratusan sepeda juga beberapa waktu lalu kami bagikan kepada santri,” ujarnya.

Kegiatan-kegiatan yang sudah berjalan merupakan dana dari Lazisnu Kudus dan  sumbangan dari sejumlah donator. Pihaknya bersama pengurus Lazisnu Kudus sama sekali tidak pernah menggunakan dana zakat ataupun infaq untuk kepentingan lain.

“Pengumpulan 9.000 kaleng infaq dari masyarakat NU di sembilan kecamatan yang diambil setiap bulannya sampai saat ini ada sekitar Rp 300 juta. Yang nantinya dana tersebut bisa memberikan manfaat bagi orang-orang yang membutuhkan,” tandasnya.

 

Reporter: Yuda Auliya Rahman
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...