Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Sukun Samping
Sukun Samping

Melongok DKW Hummel, Motor Jerman Antik yang Punya Pedal Seperti Sepeda

Yulianto (56) bersama DKW Hummel kesayangannya. (MURIANEWS/Yuda Auliya Rahman)

MURIANEWS, Kudus – DKW Hummel, motor bebek antik pabrikan asal Jerman tersebut, mempunyai ciri khas pembeda yang cukup unik dibanding motor bebek lain. Motor tipe 2-stroke itu mulai beredar sekitar tahun 1950-an hingga 1960-an.

Secara tampilan, motor ini mengusung desain mirip sepeda onthel yang memiliki pedal kayuh. Pedal di motor ini juga berfungsi sebagai pengganti kick stater untuk menghidupkan mesin dan mengerem roda belakang.

Pada roda depan, DKW Hummel dipadu dengan suspensi lengan ayun, sedangkan pada roda belakang supesnsi terlihat berdiameter agak kecil dan panjang. Lampu depan berbentuk bulat dan tergolong mini, yang menambah kesan klasik.

Di sektor jantung pacu, DKW Hummel dibekali dengan mesin yang tergolong mini yakni berkapasitas 49cc. Sistem transmisinya pun menggunakan transmisi manual tiga percepatan dengan sistem perpindahan transimisi yang berada di bagian stang sebelah kiri.

Di Indonesia jumlah motor ini yang masih ada dan terawat jumlahnya tak banyak. Salah satunya dimiliki oleh Yulianto (56) warga Desa Prambatan Lor, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus.

Hobi merawat motor antik yang sudah tertanam saat masih di bangku sekolah menjadikan dirinya meminang DKW Hummel.

“Dulu waktu SMP sudah pernah punya. Sekitar tahun 85-an itu diberi uang buat beli sepeda balap, zaman dulu itu dikasih ibu Rp 25 ribu. Tapi malah tak buat beli motor DKW Hummel itu posisi bekas,” katanya.

Motor DKW Hummel antik buatan Jerman. (MURIANEWS/Yuda Auliya Rahman)

Pada tahun 2017 lalu, dirinya kembali membeli DKW Hummel keluaran tahun 1962. Namun saat membeli kondisinya sudah memperihatinkan, hanya rangka yang tanpa roda yang sudah berkarat. Posisi mesinya pun dalam kondisi mati.

“Beli Rp 8 juta itu bekas perusahaan di Kudus, waktu beli posisinya ya rosok, tanpa knalpot, tanpa pedal, tanpa roda. Tapi suratnya lengkap,” ucapnya.

Setelah dibeli, ia pun lantas segera merestorasi motor DKW Hummel itu agar kembali seperti sediakala. Biaya restorasinya pun sama dengan harga pembelian motor tersebut.

“Mulai cat, hidupin mesin, dan sparepart lain itu habisnya Rp 8 juta. Ada barang yang tidak ori juga, pedal saya pakai punya sepeda jadul, tromol depan belakang pakai punya Smash, knalpot buatan sendiri. Kalau kira-kira ori sekitar 70 persen,” jelasnya.

Pedal di motor DKW Hummel antik milik Yulianto. (MURIANEWS/Yuda Auliya Rahman)

Perawatanya pun menurutnya sangatlah mudah dan motornya pun tak pernah rewel saat digunakan berkelling santai sekitaran Kota Kretek. Sejumlah mekanisme motor itu pun tergolong unik dari proses pemutaran transimi pada stang, maupun penggunaan pedal dengan sistem torpedo untuk pengeraman.

“Selama ini gak pernah macet, pistonnya juga yang dulunya pas beli macet sudah saya ganti. Ini cukup ada bensin yang dicampur oli karena 2 tak. Kalau masukin kopling di tangan kaya Vespa tapi bedanya itu misal masuk satu putar ke atas dan selanjutnya sebaliknya,” ungkapnya.

Hal cukup unik kembali bisa ditemui di DKW Hummel tersebut. Saat kehabisan bensin pengendara bisa mengayuh pedal yang berada di motor tersebut.

“Emang uniknya juga itu, kalau habis bensin dimasukkan perseneling 3 setelah itu bisa dikayuh sampai pom bensin. Jadi tidak perlu susah dorong,” ujarnya.

Hingga kini, motor DKW Hummelnya tersebut terpajang bersih di ruang tamu rumahnya. Dan dirinya pun tidak mempunyai niatan untuk menjual DKW Hummel itu, lantaran memang sengaja untuk koleksi.

 

Reporter: Yuda Auliya Rahman
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...