Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Sukun Samping
Sukun Samping

Tinggalkan Profesi Sopir, Warga Bucu Jepara Ini Pilih Jualan Miniatur Truk

Wibowo Eka Fahrudin, warga Bucu, Kembang, Jepara saat menunjukkan miniatur truk buatannya. (MURIANEWS/Budi Erje)

MURIANEWS, Jepara – Industri kreatif sering disebut-sebut menjadi salah satu peluang besar yang bisa dimanfaatkan masyarakat. Apalagi di tengah pandemi Covid yang terjadi saat ini, industri kreatif masih mampu berada dalam posisi aman dalam perekonomian yang sedang guncang.

Hal ini dibuktikan oleh Wibowo Eka Fahrudin, warga Bucu, Kembang, Jepara. Melalui tangan dinginnya, dia memilih memproduksi ‘truk’ yang kemudian dijual.

Wibowo Eka Fahrudin, yang memikiki dua orang anak ini, sebelumnya berprofesi sebagai sopir. Pekerjaan itu akhirnya ditinggalkannya, dan memilih menekuni usaha pembuatan miniatur truk dari kayu. Usaha ini dilandasi dari hobinya membuat kerajinan, dan akhirnya malah berkembang menjadi sebuah sumber mata pencaharian.

Bowo, demikian dirinya biasa disapa, mengaku masih mendapatkan belasan order, dalam situasi pandemi Covid-19. Dalam sebulan dirinya masih mampu membuat belasan miniatur truk, untuk melayani pesanan konsumennya.

Sejauh ini, pesanan truk mainan produknya dipesan oleh konsumen asal Ponorogo, Magelang, Malang dan beberapa kota besar lainnya.

“Sampai saat ini Alhamdulilah, pesanan masih terus datang. Sebulan bisa belasan yang harus saya kirimkan ke para pemesan. Hasilnya lumayan, apalagi saat ini masih pandemi covid, kebutuhan rumah insyaallah bisa tertutup,” ujar Wibowo, Jumat (5/3/2021).

Untuk membuat miniatur truk, Wibowo mengaku menggunakan bahan baku kayu jati pilihan, agar hasil produknya juga maksimal. Selain itu, proses pengerjaannya juga lebih mudah.

“Kalau menggunakan kayu bekas, ada perbedaan ketebalannya, dan membuatnya lebih sulit dan lama dalam proses produksinya. Desain truk, juga dibuat dalam beberapa model, dan kadang-kadang juga sesuai dengan keinginan pemesan,” ungkapnya.

Usahanya ini sudah ditekuninya sekitar dua tahun terakhir. Dengan menggunakan sistem online, dirinya selama ini memasarkan hasil produknya ini. Setiap miniatur truk yang dibuatnya, rata-rata dibanderol dengan harga Rp 200 ribu.

Namun bisa juga lebih mahal, tergantung pada aksesoris dan tambahan hiasan yang dipasang. Misalnya jika ada lampunya, maka harganya juga berbeda dibandingkan dengan yang tidak ada lampunya. Demikian juga dengan ukurannya, semakin besar produk maka harganya juga akan lebih mahal.

“Selain itu, masalah warna cat dan motifnya juga akan menentukan harga juga. Semuanya ada perhitungannya, untuk menentukan harga,” jelasnya.

Wibowo sendiri membuka bengkel kerjanya di kediamannya. Sebelah rumahnya digunakan sebagai tempat kerja, sehari-hari. Mulai mendesain, membentuk dan pengerjaan finishing dilakukan di bengkel kerjanya sendiri.

 

Reporter: Budi Erje
Editor: Supriyadi

Comments
Loading...