Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Sukun Samping
Sukun Samping

Kepada Ganjar Mantan Anak Buah Noordin M Top Ini Beberkan Alasan Banting Stir Ternak Lele

Yusuf mantan napiter menunjukkan ternak lele yang digelutinya kepada Ganjar Pranowo. (MURIANEWS/Istimewa)

MURIANEWS, Semarang – Machmudi Hariono alias Yusuf, merupakan mantan anak buah gembong teroris Noordin M Top. Setelah ditangkap dan menjalani hukuman selama sepuluh tahun, Yusuf kini hidup berbaur dengan masyarakat dengan damai.

Ia kini tinggal di Gisikdrono, Kecamatan Semarang Barat, lokasi di mana ia ditangkap Densus 88 beberapa waktu lalu. Dalam kesehariannya Yusuf yang juga Ketua Yayasan Persadani, yayasan yang menaungi eks napi teroris (napiter) di Jawa Tengah itu memilih banting stir dengan berbudi daya lele.

Saat dikunjungi Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Kamis (4/3/2021) pagi, Yusuf membeberkan alasan mengapa memilih tinggal di sini dan beternak ikan. Ia menyebutkanya sebagai bagian proses reintegrasi sosial.

Ia mengatakan, ternak lele adalah cara untuk memuluskan proses reintegrasi sosial itu. Dengan cara itu, Yusuf dan beberapa rekan eks napiter di Semarang bisa dengan mudah diterima oleh masyarakat.

“Secara kejadian, saya dulu ditangkap di daerah sekitar sini. Saat itu masyarakat juga gempar, sehingga saya kembali ke sini dan menjadi warga sini. Sekaligus bertanggungjawab memulihkan rasa waswas di tengah masyarakat. Ini sebagai tanggungjawab moral saya pribadi,” kata Yusuf.

Saat itu, Yusuf ditangkap karena menyembunyikan bahan peledak yang beratnya hampir satu ton. Saat ia ditangkap, warga geger dan takut.

Dengan cara beternak lele ini menurutnya, ia bisa diterima masyarakat dan bahkan banyak yang menjadikannya sebagai rujukan setiap ada kejadian terorisme.

“Saya juga selalu mengingatkan agar masyarakat tidak terpengaruh pada ajakan-ajakan yang bersifat radikalisme dan terorisme. Apalagi, ajaran itu sekarang banyak di media sosial. Harus ada langkah preventif agar terhindar dari paham-paham radikal itu,” jelasnya.

Ia juga mengakui, beberapa kali masyarakat bertanya tentang pengalamannya menjadi bagian dari gerakan terorisme dan upaya untuk mencegahnya. Melalui obrolan santai, ia menjelaskan dengan pelan dan narasi yang mudah diterima masyarakat.

“Kalau ketemu di warung, sambil lesehan ada yang tanya soal itu, saya jelaskan pelan-pelan. Intinya jangan sampai masyarakat terbawa pada image dan praduga mereka, saya berikan titik terang untuk memahami. Ternak lele ini, salah satu cara saya memudahkan berkomunikasi dengan warga,” katanya.

Ganjar mengacungi jempol langkah reintegrasi sosial yang dilakukan Yusuf dan eks napiter lain di Jawa Tengah.

“Ini keren ya, apalagi caranya bagus, ada kreatifitas yang dibangun. Di Genuk ada ternak lele, di sini jua sama, di Solo ada warung soto. Dengan cara-cara itu, maka penerimaan masyarakat akan jadi baik,” ucapnya.

Ganjar berharap para mantan napi teroris itu bisa menjai duta perdamaian. Mereka diharapkan bisa menjelaskan tentang bahaya paham radikalisme dan terorisme.

“Sekarang kalau ada cerita-cerita itu, kawan-kawan ini jadi narasumber. Ini cara bagus, sehingga penerimaan masyarakat juga bagus. Apalagi mereka juga caranya menarik, elegan sekaligus produktif karena mengembangkan bisnis untuk mereka dan warga sekitar,” pungkasnya.

 

Reporter: Ali Muntoha
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...