Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Sukun Samping
Sukun Samping

Mengenal Gapura Paduraksa yang Dibangun Arya Panangsang di Masjid Wali Jepang Kudus

Gapura Paduraksa di depan Masjid Jami Wali Al-Ma’mur, Desa Jepang, Kudus. (MURIANEWS/ Vega Ma’arijil Ula)

MURIANEWS, Kudus – Gapura Paduraksa Masjid Wali Jepang yang terdapat di depan Masjid Jami Wali Al-Ma’mur, Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus disebut dibangun oleh Arya Penangsang pada abad ke-16 lalu.

Arya Penangsang merupakan murid Sunan Kudus. Pembangunan Gapura Paduraksa Masjid Wali Jepang ini sebagai bentuk simbol sinergritas antara ulama dan pemerintah kerajaan saat itu.

Sekilas, bentuk Gapura Paduraksa atau Gapura Padureksan yang ada di depan Masjid Wali Jepang ini hampir sama dengan Gapura Paduraksa yang terdapat di Masjid Wali Loram Kulon atau gapura yang terdapat di kompleks Menara Kudus.

Saat ini Gapura Paduraksa termasuk  ke dalam benda cagar budaya yang dilindungi oleh Undang-UNDANG Nomor 11 Tahun 2020.

Juru Pelihara Masjid Wali Al-Ma’mur Fatkhur Rokhman Aziz membeberkan sejarah di balik pembangunan Gapura Paduraksa Masjid Wali Jepang atau yang dikenal juga sebagai Gapura Arya Penangsang itu.

Menurutnya, Gapura Paduraksa Masjid Wali Jepang ini merupakan simbol sinergi antara ulama dan pemerintah kerajaan kala itu.

“Kalau mengacu pada penerjemah serat Jawa kuno yang bernama Ki Herman Sinung Janutama beliau mengatakan bahwa Gapura Paduraksa merupakan perpaduan pangiwo (kiri) dan panengen (kanan),” katanya, Rabu (3/3/2021).

Dia menyebut, pangiwo mewakili pemerintahan kerajaan saat itu. Sedangkan panengen mewakili ulama. Dari situlah tercermin simbol sinergi antara pemerintah dengan ulama.

“Itu bisa dilihat di gapuranya kan ada sisi kiri dan sisi kanan dan disatukan dengan atap. Itu simbol bersinergi,” ungkapnya.

Lebih lanjut, menurutnya tujuan dibangunnya Gapura Paduraksa itu untuk ngemong masyarakat. Bahkan, nama Padureksan atau Paduraksa ini memiliki makna perpaduan yang dijaga. “Padureksa itu dari perpaduan yang direkso atau perpaduan yang dijaga,” ujarnya.

Dia juga menyampaikan bahwa bentuk bangunan gapura ini memang disesuaikan oleh Arya Penangsang dengan bentuk yang ada di kompleks Menara Kudus. Sebab, Arya Penangsang merupakan murid dari Sunan Kudus.

“Gapura yang di sini bentuknya lebih sederhana. Kalau keistimewaannya dulu di atas pintunya itu ada ukiran-ukiran bermotif daun dan bunga-bungaan. Tapi saat ini sudah tidak terlihat,” jelasnya.

 

Reporter: Vega Ma’arijil Ula
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...