Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Sukun Samping
Sukun Samping

OPINI

Dampak Pembelajaran Daring Bagi Moralitas Siswa

Ilham Firdaus Ramadhan *)

PANDEMI Covid-19 yang melanda Indonesia belum berakhir, jumlah kasus terkonfirmasi semakin hari meningkat menunjukkan angka yang sangat tinggi. Sejak awal munculnya virus ini, penyebarannya begitu cepat di Indonesia. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia mengeluarkan Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 Tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Coronavirus Disease 2019 (Covid-19).

Kebijakan tersebut diambil sebagai langkah pencegahan penyebaran Covid-19 yang ditujukan kepada semua pihak yang berkaitan dengan pendidikan. Melalui kebijakan tersebut, pelaksanaan pendidikan dilakukan dengan metode jarak jauh dari rumah masing-masing atau juga disebut dengan pembelajaran daring.

Pelaksanaan pendidikan dari tatap muka ke pembelajaran daring tentu menimbulkan banyak polemik yang muncul dari berbagai aspek yang terjadi di lapangan. Mengingat pembelajaran daring dilaksanakan pada waktu yang darurat, tanpa adanya suatu persiapan yang maksimal mengenai kondisi yang terjadi pada saat pelaksanaan pembelajaran.

Dilansir dari Solopos.com (7/8/2020), Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim melalui keterangan virtual pada Jumat (7/8/2020), menyebutkan bahwa “ Efek dari pembelajaran jarak jauh ini secara berkepanjangan bisa sangat negatif dan permanen bagi peserta didik”.

Pelaksanaan pembelajaran daring yang dilaksanakan dalam jangka waktu panjang dikhawatirkan dapat berdampak negatif bagi siswa.

 

Persoalan Moralitas

Masalah moralitas sangat penting untuk ditekankan dalam proses pendidikan agar siswa mempunyai tingkah laku baik. Baik buruknya tingkah laku ditentukan oleh siswa sendiri dalam setiap tindakannya.

Adanya pengaruh buruk dari dalam dan dari luar juga akan memengaruhi tingkah laku moralitas siswa. Tingkat emosi siswa juga akan memengaruhi baik buruknya moralitas. Jika hal ini tidak diperhatikan secara maksimal dikhawatirkan akan muncul berbagai permasalahan yang cukup serius dalam usaha pencapaian penerapan nilai-nilai moralitas.

Dalam pelaksanaan pembelajaran tatap muka saja yang selalu dipantau dan diawasi oleh guru masih banyak ditemui penyimpangan terkait moralitas yang dilakukan oleh siswa. Hal ini akan berpengaruh pada pelaksanaan pembelajaran daring yang mana siswa tidak bisa dipantau dan diawasi secara langsung yang dikhawatirkan akan memicu banyak penyimpangan baru yang akan muncul.

Faktor lain yang memengaruhi yaitu kurangnya penekanan nilai-nilai moralitas pada saat pembelajaran serta kurangnya interaksi dan perhatian orang tua dalam mengawasi perkembangan anaknya.

Pada pelaksanaan pembelajaran tatap muka siswa ditanamkan nilai-nilai moralitas seperti bersalaman atau mengucapkan salam ketika bertemu guru, menghormati guru atau orang yang lebih tua, disiplin akan waktu baik saat berangkat sekolah maupun pada saat jam pembelajaran, tanggung jawab terhadap perilaku yang dilakukan siswa, saling menghargai pendapat teman ketika sedang berdiskusi dan sebagainya.

Dalam pelaksanaan penanaman moralitas pada saat pembelajaran daring mungkin tidak bisa seefektif pada saat pembelajaran tatap muka, akan banyak hal kendala yang akan dihadapi terutama pada pelaksanaan prakteknya secara langsung.

Akibat dampak negatif yang akan muncul terhadap moralitas saat pembelajaran daring, siswa cenderung mempunyai kebebasan dan kesempatan untuk tidak disiplin mengikuti pembelajaran, seperti pada saat menggunakan platform online siswa terkadang telat bergabung atau tidak mengikuti jalannya proses pembelajaran.Hal ini tidak dapat dihindari dikarenakan kemungkinan besar terkendala oleh jaringan internet, kuota habis, dan lainnya.

Akan tetapi, situasi seperti ini memungkinkan banyak kesempatan yang dimanfaatkan siswa untuk tidak disiplin. Belum lagi pada saat pelaksanaan ujian yang tidak diawasi secara langsung, akibatnya akan banyak kesempatan bagi siswa dalam melakukan kecurangan dengan berbagai alasan, seperti mengambil jawaban dari internet atau mencontek temannya dan lain sebagainya.

Jika nilai-nilai moralitas tidak diterapkan secara optimal pada proses kegiatan pembelajaran daring dikhawatirkan dapat mengubah tingkah laku siswa dan siswa akan terbiasa untuk melakukan tindakan tersebut. Maka dari itu peranan guru dan orang tua sangat penting dalam pencapaian keberhasilan penerapan nilai-nilai moralitas pada pelaksanaan pembelajaran daring agar bisa berjalan dengan efektif tanpa menimbulkan dampak negatif bagi perkembangan siswa. Jika orang tua saja tentu tidak akan bisa, dan jika guru saja juga tidak akan bisa (R. R. Lubis, Mahrani, et al., 2020).

 

Solusi Persoalan Moralitas

Melalui pendidikan siswa diharapkan mempunyai nilai-nilai moralitas yang nantinya kelak akan diterapkan didalam kehidupannya, maka dari itu pendidikan tidak hanya pada proses berpikir kritis, kreatif maupun ajang mencari sebuah nilai dan peringkat di kelas. Akan tetapi pendidikan yang baik yaitu dengan cara bagaimana seorang siswa mampu menerapkan nilai-nilai moralitas yang dipelajari dan diajarkan selama menempuh pendidikan.

Dalam menangani persoalan moralitas diperlukan dukungan dan kerjasama dari semua pihak. Guru mempunyai peranan penting sebagai pendidik dalam mengajarkan nilai-nilai moralitas. Guru harus mampu menekankan pentingnya kesadaran bermoralitas pada setiap siswa melalui pembelajaran yang diajarkan.

Salah satu hal yang dapat diterapkan pada siswa seperti pembelajaran tatap muka, hanya saja ada penekanan dan pemantauan lebih terhadap penerapan nilai-nilai moralitas. Orang tua berperan utama dalam membentuk sikap moralitas di lingkungan keluarga. Pada saat pembelajaran daring peran orang tua sangat penting, karena guru tidak bisa memantau dan mengawasi perkembangan tingkah laku siswa secara langsung, maka melalui orang tua diharapkan guru bisa melihat sejauh mana perkembangan tingkah laku moralitas siswa. Jika kerjasama dari semua pihak tersebut dapat dilaksanakan dengan baik, maka diharapkan terwujudnya nilai-nilai moralitas yang nantinya akan dijadikan pedoman siswa dalam kehidupan sehari-hari. (*)

 

*) Penulis adalah mahasiswa Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang

Comments
Loading...