Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Terlambat Tertangani, Lima Orang di Kudus Meninggal karena DBD Selama 2020

Petugas melakukan fogging di Desa Pasuruhan Lor, Kecamatan Jati, Kudus belum lama ini. (MURIANEWS/Vega Ma’arijil Ula)

MURIANEWS, Kudus – Keterlambatan penanganan demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi persoalan di Kudus. Sebab, sepanjang tahun 2020 ada temuan 40 kasus DBD dengan lima kasus kematian.

Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus Nuryanto mengatakan, kasus kematian disebabkan adanya keterlambatan penanganan. Untuk itu deteksi dini perlu dipahami masyarakat guna meminimalisir kasus demam berdarah.

“Ada lima kasus kematian di 2020. Dan terjadi di awal-awal tahun. Sebenarnya kalau ada kasus langsung ditangani sedini mungkin bisa menekan angka DBD,” katanya, Selasa (23/2/2021).

Salah satu cara penanganan dini yang dimaksud olehnya yakni memahami gejala-gejala demam berdarah. Seperti panas yang lebih dari tiga hari, tidak ada nafsu makan, gangguan pencernaan, dan nyeri perut.

“Ketika ditemukan gejala-gejala seperti itu bisa langsung ke Puskesmas untuk periksa. Terkadang itu masyarakat mengambil langkah sendiri dengan cara langsung ke apotek beli obat penurun panas tanpa memahami bahwa itu gejala demam berdarah. Akhirnya terlambat ditangani,” terangnya.

Menurut dia, ketika penanganan sudah terlambat akan semakin sulit ditangani. Sehingga bisa menyebabkan hal yang tidak diinginkan.

“Kalau sudah terlambat baru dibawa ke rumah sakit kan dari rumah sakit tidak bisa apa-apa. Seandainya ditemukan secara dini bisa menekan kematian,” terangnya.

Lebih lanjut menurutnya di tengah pandemi saat ini masyarakat memang merasa takut untuk periksa ke rumah sakit. Salah satu penyebabnya menurut Nuryanto masyarakat takut jika divonis Covid-19.

Sementara itu di tahun 2021 per hari ini ada temuan empat kasus demam berdarah dengan nol kasus kematian. Dia berharap masyarakat juga menciptakan lingkungan yang bersih untuk meminimalisir kasus demam berdarah.

“Masyarakat harus melaksanakan pemberantasan sarang nyamuk secara rutin. Selain itu rajin membersihkan kubangan, tandon air, tampan air kulkas, dan menerapkan 3M seperti menutup, mengubur, dan menguras,” pungkasnya.

 

Reporter: Vega Ma’arijil Ula
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...