Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

OPINI

Kesenjangan Teknologi dan Dunia Pendikan di Masa Pandemi

Bayu Aji Prakoso *)

MASA pandemi mengharuskan proses pembelajaran dilakukan secara daring (dalam jaringan). Hal tersebut menimbulkan permasalahan kesenjangan teknologi di era digital saat ini dalam dunia pendidikan. Permasalahan muncul karena belum siapnya sumber daya manusia (SDM) dan kurangnya sarana pendukung dalam pembelajaran.

Sesuai dengan Surat EdaranNomor  4Tahun 2020 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim, mengambil kebijakan salah satunya penetapan pembelajaran dari rumah. Pada awal kebijakan pembelajaran secara daring mendapat respon yang baik, karena kebijakan tersebut dapat memutus penyebaran rantai Covid-19.

Namun seiring berjalannya kebijakan ini, dan dilakukannya perpanjangan pembelajaran secara daring menimbulkan permasalahan baru. Masa pandemi Covid-19 memberikan tantangan yang besar bagi sektor pendidikan, namun sisi lain juga memberikan perubahan positif seperti halnya pemanfaatan teknologi dalam dunia pendidikan.

Saat ini teknologi dalam dunia pendidikan sudah tidak diragukan lagi, karena teknologi mempunyai peran yang sangat penting dalam pendidikan. Pemanfaatan teknologi secara spesifik dapat membantu proses keefisien dan kelancaran  proses pembelajaran.

Masa pandemi mengharuskan dunia pendidikan untuk dapat bertransformasi serta beradaptasi untuk menyesuaikan dengan stituasi dan kondisi. Metode pembelajaran secara daring memanfaatkan kemajuan teknologi di era digital saat ini, untuk menunjang pelaksanan proses pembelajaran yang optimal. Namun, peserta didik mengalami kendala pada pembelajaran daring yakni kesenjangan akses terhadap TIK yang dikenal dengan kesenjangan digital (digital divide).

Hal tersebut menimbulkan berbagai permasalahan pada aspek minimnya sumber daya manusia (SDM) karena kurangnya pengetahuan mengenai kemajuan teknologi. Pendidik memiliki peran yang sangat penting sebagai salah satu penyedia hal yang sama atau bahkan lebih dibandingkan teknologi.

Sehingga pendidik dan peserta didik dapat ditekankan pada kemampuan menggunakan serta mengaplikasikan berbagai macam penguasaan media dan aplikasi digital yang digunakan sebagai media pembelajaran.

Aktivitas daring merupakan salah satu peluang dalam upaya pencarian informasi serta pengembangan kapasitas yang tak terbatas. Sehingga perlu adanya pemanfaatan, contohnya dengan menyediakan platform pembelajaran dalam rangka upaya peningkatan keterampilan digital oleh pendidik maupun peserta didik.

Pendidik dan peserta didik tentunya harus dapat mengerti pemanfaatan teknologi pada dunia pendidikan khususnya dalam media pembelajaran. Mengingat bahwa media memiliki fungsi sebagai salah satu sarana untuk memudahkan dalam kegiatan peyampaian informasi dan bahan ajar dalam proses belajar mengajar.

 

Persoalan Kesenjangan Teknologi

Kemajuan teknologi pada dasarnya memberikan kemudahan dalam upaya pemerataan pendidikan yang ada di Indonesia. Namun di sisi lain dengan tidak adanya sarana prasarana pendukung, maka kesenjangan dunia pendidikan semakin buruk.

Masih terdapat peserta didik yang tidak memiliki akses dan keterbatasan dalam teknologi, jaringan, dana serta media pembelajaran (Y. Indahri, 2021). Dalam aspek teknologi mengalami kendala dalam proses pembelajaran secara daring, alasannya sebagian dari peserta didik tidak memiliki gawai secara pribadi. Sebagian besar peserta didik menggunakan handphone milik orang tua sehingga hal tersebut menghambat jalannya proses pembelajaran.

Semestinya pendidik membuat pembelajaran menjadi efektif, namun kenyataannya masih banyak ditemui oknum pendidik yang gagap teknologi (gaptek). Sehingga dapat menghambat kegiatan belajar mengajar (KBM).

Di era disrupsi teknologi saat ini yang semakin canggih, pendidik dituntut supaya dapat memiliki kemampuan teknologi dalam dunia pendidikan. Misalnya dalam memberikan materi, pendidik dapat membuat dan mendesain strategi serta media apa yang nantinya akan di berikan dalam pembelajaran.

Pemerintah telah melakukan usaha untuk menyesuaikan terhadap situasi, kondisi, sarana dan prasarana yang ada pada satuan pendidikan, akan tetapi masih ada kesenjangan yang dijumpai.Karena insfrastruktur sebagai salah satu faktor dalam keberhasilan dalam menunjang keberhasilan dalam penyelenggaraan pendidikan.

Akan tetapi, di daerah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal), masih ada sekolah yang belum sama sekali terhubung dengan listrik, apalagi dengan akses internet. Sehingga akan menghambat keberlangsungan kegiatan belajar mengajar tanpa adanya akses teknologi.

 

Solusi Kesenjangan Teknologi

Kendala kesenjangan teknologi dapat diatasi dengan melakukan pelaksanaan pembelajaran jarak jauh (PJJ), menggunakan konsep kolaborasi antara pemerintah daerah dengan instansi yang terkait. Berkolaborasi melalui program televisi dan radio lokal untuk menyampaikan materi pembelajaran. Sehingga peserta didik secara luas dapat mengikuti proses pembelajaran yang disampaikan melalui media televisi dan radio.

Penerapan PJJ dapat meningkatkan proses pembelajaran yang efektif, kreatif dan inovatif yang menunjang produktivitas pembelajaran. Maka pemerintah perlu menyediakan pendidikan yang lebih inklusif dengan menunjang pengadaan penyediaan akses dan insfrastruktur.

Pemanfaatan teknologi pendidikan melalui pengaplikasian media pembelajaran dapat dikemas menarik dan penuh gamifikasi untuk menghilangkan rasa bosan dan meningkatkan semangat belajar. Salah satunya pendidik dapat membuat konten video, power point kreatif yang diberikan saat penyampaian materi.

Pendidik dapat lebih persuasif karena hal tersebut dapat membuat peserta didik lebih tertarik dan aktif untuk mengikuti kagiatan belajar mengajar (KBM). Sementara itu pendidik juga dapat mengajak kolaborasi dengan orang tua untuk dapat melakukan pengawasan, bimbingan serta arahan dengan adanya pembelajaran secara daring (dalam jaringan) yang di lakukan di rumah masing-masing.  (*)

 

*) Penulis adalah mahasiswa Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang

Comments
Loading...