Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Harga Kedelai Impor di Kudus Naik Lagi, Keterlambatan Distribusi Jadi Biangnya

Salah satu produsen tahu dari kedelai di Desa Karangbener, Kudus. (MURIANEWS/Anggara Jiwandhana)

MURIANEWS, Kudus – Harga kedelai impor di Kabupaten Kudus kembali naik di awal Febuari 2021 ini. Harganya kini bahkan menembus Rp 9.750 per kilogram dari sebelumnya Rp 8.150 per kilogram.

Keterlambatan pengiriman diduga jadi biang naiknya harga kedelai di Indonesia khususnya Kudus.

Ketua Primer Koperasi Tahu-Tempe Indonesia (Primkopti) Kabupaten Kudus Amar Ma’ruf menyebutkan, ada keterlambatan pengiriman kedelai dari Amerika. Selain itu, berdasar informasi yang pihaknya terima, jumlah panennya juga menurun.

“Sehingga indeks harga di pasaran juga mengalami kenaikan,” katanya, Rabu (10/2/2021).

Selain mengalami peningkatan pada jumlah harga, stok kedelai di gudang juga mulai menipis. Saat ini sendiri, kata Ma’ruf hanya tersisa 15 ton saja. Dari sebelumnya yang bisa mencapai 60 ton.

“Permintaan selama masa pandemi cenderung berubah-ubah, karena menyesuaikan permintaan pasar, tapi biasanya 10 sampai 15 ton per harinya,” ujarnya.

Walau demikian, pihaknya memastikan dalam waktu dekat akan ada pendistribusian kedelai impor dari Semarang. Hal tersebut dikarenakan mulai surutnya banjir di ruas jalan Semarang-Demak.

Ma’ruf menuturkan, harga jual kedelai impor sebenarnya berkisar di Rp 6.500 per kilogram. Namun, semenjak ada pandemi corona, pendistribusian sedikit terganggu dan mengakibatkan harga jual kedelai melambung.

“Naik secara bertahap hingga akhirnya mencapai Rp 8.000 kemudian naik lagi menjadi Rp 9.750 per kilo, ini yang paling tinggi,” ujar dia.

Untuk diketahui, jumlah perajin tahu dan tempe di Kabupaten Kudus diperkirakan mencapai 300 lebih, yang tersebar di sejumlah kecamatan. Seperti Kecamatan Mejobo, Kota, Jekulo, Kaliwungu, Dawe, Bae, Gebog, Undaan, dan Jati.

 

Reporter: Anggara Jiwandhana
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...