Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Imlek di Tengah Pandemi, Perajin Barongsai di Kudus Kehilangan Cuan

Alvis Rezando tengah menyelesaikan pembuatan barongsai. (MURIANEWS/Vega Ma’arijil Ula)

MURIANEWS, Kudus – Tahun ini hoki sedang tidak berpihak kepada perajin barongsai. Hari Raya Imlek yang biasanya menjadi waktunya panen dan mendulang cuan (untung) tahun ini tak bisa diharapkan.

Pasalnya, kondisi yang masih pandemi membuat berbagai even untuk memeriahkan Imlek harus ditiadakan. Padahal barongsai biasanya tak pernah ketinggalan dalam setiap even tahun baru Tionghoa ini.

Salah satu yang merasakan dampaknya yakni Alvis Rezando, perajin barongsai di Kabupaten Kudus. Ditemui di kediamannya yang berada di RT I, RW II, Desa Loram Kulon, Jati, Kudus, Alvissapaan akrabnya itu mengaku, pesanan barongsai tahun ini menurun drastis.

“Orderan jelang Imlek tahun ini bisa dibilang turun. Tahun sebelumnya menjelang Imlek itu bisa sampai 50 unit. Kalau tahun ini sampai hari ini baru ada 15 orderan,” katanya, kepada MURIANEWS, Jumat (5/2/2021).

Menurutnya permintaan barongsai menurun karena adanya pandemi Covid-19. Selain itu, pementasan barongsai tahun ini juga tidak diperbolehkan.

Alvis Rezando menunjukkan barongsai buatannya yang diproduksi di kediamannya di Desa Loram Kulon, Kudus. (MURIANEWS/Vega Ma’arijil Ul)

Saat ini Alvis memasarkan penjualan barongsainya secara online lewat Facebook dan Instagram di @pengrajinbarongsaikudus. Menurut pemuda kelahiran Kudus, 18 Agustus 1998 itu, pesanan yang masuk pun terbilang mepet.

Karena orderan barongsai perdana baru ada di Desember 2020 lalu. Hal ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.

“Kalau tahun sebelum-sebelumnya itu September itu sudah banyak orderan. Tahun ini hitungannya mepet Imlek baru ada orderan,” sambungnya.

Selain itu, permintaan saat ini paling banyak ada dari luar Jawa. Seperti di Palangkaraya dan Pontianak. Sedangkan orderan di area pulau Jawa bisa dibilang minim.

“Mungkin karena angka terpapar Covid-19 di Jawa paling banyak. Sedangkan untuk luar Jawa masih agak longgar,” jelasnya.

Pemuda yang sudah menekuni usaha pembuatan barongsai sejak 2016 itu saat ini juga harus berpacu dengan waktu karena orderan yang mepet dengan Imlek. Kondisi musim hujan kerap membuatnya kebingungan.

“Saat ini saya membuat dua motif. Yang pertama fut-san atau bentuk kucing dan hok-san atau bentuk bebek. Tapi dengan cuaca yang juga hujan seperti ini juga menjadi kendala karena cat dan lemnya jadi kurang kering,” terang dia.

Dalam sekali pengerjaan satu set barongsai mulai dari kepala berdiameter 145 sentimeter hingga bagian tubuh dan ekor, Alvis membutuhkan waktu dua hingga empat pekan.

Hal itu bergantung pada kondisi cuaca. Jika tidak turun hujan, masa pengerjaannya bisa lebih cepat dengan durasi dua pekan.

“Bahannya saya pakai rotan, kain kasa, dan kertas HVS. Untuk satu set barongsai harganya Rp 5,5 juta,” pungkasnya.

 

Reporter: Vega Ma’arijil Ula
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...