Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Ciptakan Alat Cegah Kerumunan, Lima Siswa MAN 2 Kudus Sabet Penghargaan dan Kuliah Gratis

Tim riset siswa MAN 2 Kudus memperlihatkan prototype alat Medigate. (MURIANEWS/Yuda Auliya Rahman)

MURIANEWS, Kudus – Di tengah pandemi Covid -19 pemerintah mewajibkan masyarakat untuk disiplin protokol kesehatan. Salah satunya dengan menghindari kerumunan dan menjaga jarak.

Kebijakan tersebut lantas mendorong lima siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Kudus untuk berinovasi menciptakan alat pencegah kerumunan, yang bisa diaplikasikan ke sebuah ruangan, gedung, hingga tempat perbelanjaan.

Alat tersebut diberi nama Medigate atau disebut juga gerbang kesehatan.  Kelima penciptanya yakni Falih Nugrahanto, Kharisma NH, Hanifah T, Nur Fadhila S, dan Tiffa KD.

Bahkan alat pencegah kerumunan tersebut menjadi pemenang di kategori The Top Contender dalam ajang Akademi Madrasah Digital (AMD) 2020 yang diselenggarakan Direktorat KSSK Madrasah Dirjen Pendis Kementerian Agama.

Atas prestasi yang diraihnya, kini kelima siswa tersebut mendapatkan uang pembinaan Rp 10 juta dan berhak mendapatkan beasiswa bebas biaya selama kuliah di seluruh Universitas Islam Negeri (UIN) se-Indonesia.

Penghargaan yang diraih siswa MAN 2 Kudus dari alat pendeteksi kerumunan yang diciptakan. (MURIANEWS/Yuda Auliya Rahman)

Salah satu pencipta Medigate, Falih Nugrahanto menjelaskan, cara kerja Medigate yakni dengan sensor di pintu masuk. Sensor digunakan untuk mendeteksi jumlah pengunjung yang masuk.

“Ketika jumlah pengunjung di gedung itu sudah di batas maksimal, maka otomatis lampu peringatan akan menyala merah pada pintu masuk,” katanya, Rabu (3/2/2021).

Selain terkontrol pada sebuah monitor, Medigate juga terkoneksi dengan internet. Di mana pengunjung bisa mengetahui kapasitas suatu gedung melalui smartphone sebelum pengunjung datang ke lokasi.

“Jadi ketika sesorang hendak datang ke suatu lokasi, bisa di monitor dulu sebelum datang. Jika kapasitas sudah penuh kedatanganya bisa ditunda, atau mencari alternatif lokasi lain,” ungkapnya.

Alat tersebut, lanjut dia, ditujukan untuk turut serta dalam penanganan pandemi Covid -19 khususnya dalam penerapan physical distancing di tempat-tempat umum. Dengan harapan, angka penyebaran Covid -19 bisa menurun dan pandemi segera usai.

“Kami membuat alat tersebut membutuhkan waktu dua hingga tiga bulan. Dengan biaya produksi kurang lebih Rp 2 juta, belum termasuk monitor,” ucapnya.

Sementara  guru pembimbing riset MAN 2 Kudus Widayato mengatakan, timnya telah bekerja keras untuk mulai dari perencanaan sampai terciptanya alat tersebut.

“Mulai Juli hingga Desember 2020 pelaksanaanya, dari mulai pembuatan hingga kompetisi. Pengumuman juara pada akhir Januari 2021 kemarin,” ujarnya.

Ke depannya alat ini tak hanya berfungsi pada saat masa pandemi saja. Namun, ketika pandemi usai, pengelola suatu tempat ataupun gedung juga bisa menggunakannya untuk mengetahui berapa pengunjung yang datang setiap harinya.

“Jadi alat ini bisa berfungsi sepanjang masa. Bisa juga digunakan seperti di stadion yang bisa memastikan berapa penonton yang datang dengan akurat,” tuturnya

Lebih lanjut ia menyatakan salah satu pusat perbelanjaan di Kudus sudah ada yang melirik dan meminta alat tersebut agar bisa dipasang di tempatnya. Tapi, pihaknya kini masih tahap melakukan penyempurnaan.

“Ini masih proses penyempurnaan. Dan masih akan diikutkan dalam kompetisi ajang bergengsi di even selanjutnya,” ucapnya

 

Reporter: Yuda Auliya Rahman
Editor: Ali Muntoha

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.