Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Tanggapi Pernikahan Dini ABG Cantik Berusia 12 Tahun di Sragen, Komnas PA: Kebijakan Dispensasi Perlu Dievaluasi

Ilustrasi

MURIANEWS, Sragen — Kasus pernikahan dini antara ABG cantik berusia 12 tahun dengan pemuda berusia 17 di Sragen mendapat perhatian Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA).

Sekjen Komnas PA Danang Sasongko menilai kemudahan mendapat dispensasi nikah membuat masyarakat cenderung menganggap enteng pernikahan dini. Padahal banyak resiko dari pelaksanaan pernikahan dini.

Selain cenderung memutus akses pendidikan, pernikahan dini ini rawan menggangu sistem reproduksi hingga menambah deretan panjang kasus perceraian. Ia pun menilai kebijakan dispensasi nikah perlu dievaluasi.

Baca: Sudah Ngebet, ABG Cantik Berusia 12 Tahun di Sragen Nikah Dini

“Kendalanya ada pada pemahaman masyarakat suatu daerah yang justru merasa bangga kalau sudah nikah pada usia dini. Mereka bangga sudah bisa menjadi tulang punggung keluarga. Mereka merasa bisa bebas lakukan apa saja setelah menikah, termasuk kegiatan eksploitasi secara ekonomi,” papar Danang Sasongko kepada Solopos.com.

Danang menjelaskan butuh kerja sama lintas sektoral untuk menekan angka pernikahan dini termasuk di Sragen. Terbitnya UU No 16/2019 tentang Perubahan Atas UU No 1/1974 tentang Perkawinan mengamanatkan batas usia pria dan wanita yang akan menikah minimal 19 tahun.

Aturan itu ternyata tidak cukup ampuh untuk menekan angka pernikahan dini. Penyebabnya, menurut Danang, masyarakat masih bisa mendapatkan dispensasi kawin secara mudah dari Pengadilan Agama.

Baca: Putus Sekolah, ABG Cantik dan Manis Ini Jualan Bendera

“Kemudahan dalam mendapatkan dispensasi kawin ini membuat masyarakat menganggap enteng masalah pernikahan dini. Kemudahan dalam mendapatkan dispensasi kawin itu yang perlu dievaluasi,” tegas Danang.

Danang menilai faktor penggunaan smartphone secara berlebihan turut memengaruhi meningkatnya kasus kekerasan terhadap anak. Berdasar survei Komnas PA, selama pandemi Covid-19, ponsel yang dibawa anak sekolah hanya 40% untuk kegiatan belajar daring.

Sebanyak 60% sisanya untuk banyak hal seperti bermain Tiktok, chatting, main game, mengakses konten dewasa, dan lain-lain.

“Dari 2.670 laporan kasus kekerasan terhadap anak [sepanjang 2020], 52% adalah kekerasan seksual. Ada yang berdalih suka sama suka, padahal itu pasti ada bujuk rayu dan tipu daya. Ini yang mengakibatkan kehamilan di luar nikah yang berujung pada pernikahan dini,” papar Danang.

 

Penulis: Supriyadi
Editor: Supriyadi
Sumber: Solopos.com

Comments
Loading...