Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

OPINI

Hotel Pati, Hotel Perjuangan Tentara Pelajar

Gunawan Setiya Utama, A.Md *)

SEBAGAI hotel pertama di Kabupaten Pati, tempat penginapan ini juga menyimpan sejarah bangsa melawan penjajah Jepang dan Belanda. Adalah Hotel Pati yang saat ini masih megah berdiri di Jalan P. Sudirman, ternyata menjadi saksi perjuangan kaum muda di masa akhir pendudukan Jepang dan agresi militer Belanda pascakemerdekaan.

Pada awal berdirinya pada 1926, hotel ini hanya menyediakan lima kamar berukuran 5m x 6m. Sang pemilik, Tan Shi ging atau akrab disapa Mr. Tan mendirikan penginapan untuk membantu para rekan dagangnya dari berbagai negeri ketika berbisnis di Jawa.

Kala itu, Mr. Tan memberi nama tempat penginapannya Hotel Low yang merupakan satu-satunya hotel di pinggir Jalan Herman Willem Daendeles (sekarang Jalan P. Sudirman). H.W Daendeles dikenal sebagai Gubernur Jenderal Belanda yang membangun jalan raya mulai Anyer sampai ke Panarukan yang saat ini disebut Jalan Pantura.

Di akhir masa pendudukan Jepang, Hotel Low dijadikan markas Tentara Pelajar yang sebagian besar dihuni oleh para pelajar SMP Rendole yang menjadi satu-satunya sekolah di eks-Karesidenan Pati.  Pelajar-pelajar itulah yang kemudian terpacu untuk ikut berjuang melawan penjajah.

Di penginapan tersebut mereka mulai ikut merancang pergerakan perjuangan yang dikemudian hari menjadi Hotel Merdeka. Pemilik Hotel itu rupanya turut berpihak pada Tentara Pelajar. Pergerakan Tentara Pelajar itu semakin menguat. Jasa Tentara Pelajar cukup besar. Salah satu yang terlihat, mereka ikut pertempuran lima hari di Semarang.

Mereka bertempur melawan Jepang di Genuk dan Jalan Bojong. Setelah Jepang keluar, mereka kemudian kembali bertempur melawan pasukan Sekutu. Beberapa di antaranya gugur. Seperti Pratomo, Soewondo, dan Srigoto. Jenazahnya kemudian dibawa pulang ke Pati untuk dimakamkan di taman makam pahlawan.

Tak hanya itu, para perempuan yang tergabung di Tentara Pelajar membantu membuat lencana merah putih, sedangkan lelaki selain berperang juga menjadi juru berita. Mereka mendirikan radio dan aktif masuk ke desa-desa mengumpulkan warga di bantu kepala desa dan orang kaya lokal untuk mengabarkan berita dari Jakarta.

Saat terjadi agresi militer Belanda kedua, sesuai perintah Jenderal Sudirman, Tentara Pelajar juga ikut bergerilya. Mereka aktif membantu di Front Muria maupun Front Kendeng. Di situ Moh Chafidz dan Ismoekandar gugur.

Selepas kemerdekaan itulah kekuatan Tentara Pelajar semakin bertambah. Hingga akhirnya dibentuklah Gasempa (Gabungan Sekolah Menengah Pati) yang terdiri atas pelajar SMP Rondole, Sekolah Pertanian (Nogyo Gakko), Sekolah Pertikangan/Teknik (Kogyo Gakko) dan sekolah guru (Shihan Gakko). GASEMPA ini adalah merupakan pendahulu dari ikatan pelajar Indonesia yang dibentuk kemudian.

Hotel itu kemudian dijadikan markas GASEMPA. Selain Hotel Merdeka kegiatan tentara Pelajar Pati juga berlangsung di Bioskop Slamet yang pada zaman Belanda dikenal dengan sebagai Prinses Irene Theater (Jasamihardja, Sutopo.(1988). Pati Syn Dai Ichi Shoto Chu gakko 1943-1947. Jakarta: Paguyuban Eks pelajar SMP Rendole, Pati).

Di Hotel Merdeka Di markas GASEMPA Pati ini juga pernah terjadi kecelakaan yang mengakibatkan tewasnya, pemuda Soedarmo, seorang siswa Pelayaran Tinggi Semarang karena tertembak oleh seorang guru, Bapak Soekarno saat membersihkan senjata sambil bercanda. Entah kapan Hotel Merdeka berganti nama Hotel Pati belum ada catatan atau sumber pasti yang menjelaskan.

Situasi yang mulai kondusif membuat para Tentara Pelajar kembali meneruskan pendidikannya di sekolah. Sebelum perpisahan tamat sekolah, di tahun 1946 Tentara Pelajar mendirikan monumen sederhana berjudul ‘Teroeskan” di depan bekas markasnya tersebut.

Monumen berbentuk piramida tersebut bertuliskan nama-nama pejuang yang telah gugur di medan perang.  Kata “teroeskan” yang tertoreh di piramida seakan menjadi pengingat bagi generasi saat ini dan mendatang untuk mengenang sejarah perjuangan bangsa serta bisa lebih menanamkan nilai patrotisme.

Monumen itu sempat dipugar atas prakarsa Alm. AKBP (purn) R. Soedartono yang pernah menjabat Ketua TP Exs 17 dan Ketua Dewan Harian Cabang (DHC) Angkatan 45 Pati. Monumen yang berbentuk piramida setinggi 75 cm dengan mengambil areal 100 m2 di pojok timur pelataran Hotel Pati.

Nama anggota Tentara Pelajar yang gugur tertulis di monumen tersebut tersebut dan latar belakang monumen dibangun dua pejuang menenteng senapan dan mengepalkan tangan seakan berteriak. Diharapkan monumen itu menjadi refleksi bagi pelajar di Pati untuk melanjutkan perjuangan Tentara Pelajar yang rela mengorbankan jiwa dan raga untuk bangsa. (*)

 

*) Penulis adalah Arsiparis Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Pati

Comments
Loading...