Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Duh, Ekspor Non-Migas Jepara Meningkat Tapi Nilainya Turun

Aktivitas di Terminal Peti Kemas Pelabuhan Tanjung Emas Semarang.

MURIANEWS, Jepara – Perkembangan kegiatan ekspor non migas di Kabupaten Jepara mencatat sebuah fenomena unik sepanjang 2020 lalu. Sesuai catatan data di Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jepara, untuk ekspor non migas Jepara mencatat kenaikan dari sisi volumenya. Nemhn, dari sisi nilai justru mengalami penurunan.

Kepala Bidang Perdagangan di Disperindag Jepara, Iskandar Zulkarnain menyatakan, untuk volume ekspor nonmigas di Jepara mencatat kenaikan sebesar 2,52 persen pada 2020. Jumlahnya mencapai 82,14 juta kilogram.

Jumlah ini meningkat, jika dibandingkan jumlah volume ekspor yang dicetak pada tahun 20219. Pada 2019 volume eksport nonmigas Jepara mencapai 80,13 juta kilogram.

Meski begitu, lanjutnya, nilai yang didapat pada 2020 malah justru menurun. Penurunannya terjadi sebesar 14,6 persen. Pada tahun 2020 nilai ekspor non migas yang berhasil di raih Jepara mencapai $US331,59 juta.

Nilai ini menurun sekitar $US 50 juta. Sebab pada tahun 2019, dengan volume yang lebih sedikit dibanding tahun 2020, nilai ekspor yang tercatat mencapai $US 388,3 juta.

“Jadi untuk tahun 2020, meskipun terjadi peningkatan volume ekspor nonmigas, namun nilai ekspor-nya malah turun. Hal ini kemungkinan terjadi karena dampak pandemi Covid-19 yang terjadi selama 9 bulan di sepanjang tahun 2020,” ujar Iskandar Zulkarnain, Minggu (31/1/2020).

Dijelaskan juga, dari semua komuditas non migas yang diekspor dari Jepara, komuditas mebel kayu masih tetap menjadi yang terbesar. Nilai ekspor dari komudiatas mebel kayu Jepara mencatat angka $ US177,03 juta. Sedangkan volumenya mencapai 53,65 juta kilogram.

Selanjutnya disusul oleh produk garmen dan sepatu yang nilainya mencapai $ US131,67 juta. Untuk volume ekspornya, dari produk garmen dan sepatu mencapai 9,76 juta kilogram.

Produk olahan kayu berada di urutan selanjutnya dengan nilai ekspor mencapai $ US11,32 juta. Selanjutnya produk kerajinan kayu dan cendera mata, juga berhasil diekspor ke berbagai negara.

Untuk produk olahan kayu dan cendera mata, nilai ekspor-nya sebesar $ US3,6 juta. Lainnya, dalam jumlah kecil meliputi produk-produk nabati, kemasan dari plastik, kerajinan batu, semen dan marmer, barang dari logam, serta komoditas lainnya.

“Produk mebel kayu yang menjadi andalan Jepara memang masih terus menjadi yang terbesar. Namun produk sepatu dan garmen juga mulai banyak diekspor. Hal ini karena memang saat ini ada banyak industri sepatu dan garmen yang didirikan di wilayah Kabupaten Jepara,” tambah Iskadar Zulkarnain.

Pandemi yang terjadi juga menyebabkan berkurangnya jumlah eksportir di Jepara, Jika pada tahun 2019 lalu tercatat ada 427 eksportir, maka pada tahun 2020 menjadi 413 eksportir.

Hal ini juga berdampak pada jumlah negara tujuan ekspor. Jika pada tahun 2019 ada 113 negara tujuan, maka pada tahun 2020 hanya ada 95 negara yang menjadi tujuan ekspor.

 

Reporter: Budi Erje
Editor: Supriyadi

Comments
Loading...