Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

PPKM Diperpanjang, Pedagang di Kawasan Menara Kudus Sepi Pembeli

Pedagang mainan anak-anak, Yanto berjualan mainan di sebelah timur Menara Kudus. (MURIANEWS/Vega Ma’arijil Ula)

MURIANEWS, Kudus – Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Kudus diperpanjang lagi selama dua pekan ke depan, Senin (25/1/2021) mulai hari ini. Upaya pembatasan ini berdampak bagi pedagang di kawasan Menara Kudus.

MURIANEWS mencoba menyambangi kios di area Menara Kudus. Salah seorang pedagang oleh-oleh, Istiah mengatakan pihaknya mengalami penurunan pendapatan. Penyebabnya karena jumlah peziarah di kawasan Menara Kudus lebih sedikit.

“Sebelum adanya corona dan pembatasan ini pendapatan saya bisa Rp 2 juta per hari. Kalau setelah ada corona dan pembatasan, sehari dapat di bawah Rp 500 ribu,” katanya, Senin (25/1/2021).

Selain pendapatan yang menurun, pihaknya juga harus tutup lebih awal dari biasanya. Jika sebelum ada PPKM dia biasa membuka kios pukul 08.00 dan tutup pukul 24.00 WIB, setelah adanya PPKM dia harus tutup empat jam lebih cepat di pukul 20.00 WIB.

Kawasan penjual oleh-oleh di area Menara Kudus yang sepi pembeli. (MURIANEWS/ Vega Ma’arijil Ula)

Hal senada diutarakan oleh pedagang lainnya, Isma yang juga harus tutup lebih awal ketimbang biasanya. Jika biasanya dia membuka kios pukul 08.00 sampai pukul 24.00 WIB, selama PPKM dia tutup pukul 17.00.

“Ya kalau saya manut saja sama pemerintah. Diambil hikmahnya saja. Intinya kalau saya ngikut aja aturan yang ada,” jelasnya.

Hal senada diungkapkan pedagang mainan anak-anak yang biasa berjualan di area timur Menara Kudus. Penjual mainan itu bernama Yanto. Dia sudah setahun berjualan di area Menara Kudus. Warga Desa Getasrabi itu biasa mangkal pukul 06.00 sampai 16.00 WIB.

Semenjak ada pembatasan penghasilan yang didapatkannya menurun. Biasanya kalau hari biasa bisa dapat Rp 100 ribu, dan hari Minggu bisa Rp 150 ribu.

”Tapi sekarang karena tidak ada peziarah yang bawa anak-anak sehari cuma dapat Rp 20 ribu. Kadang malah enggak dapat,” terangnya.

Dia berharap agar pandemi bisa segera selesai. Sehingga penghasilannya bisa normal kembali. “Kalau seperti ini terus saya susah. Enggak ada bantuan, jualan juga sepi karena tidak ada peziarah. Semoga normal kembali dan banyak peziarah yang datang,” harapnya.

 

Reporter: Vega Ma’arijil Ula
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...