Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

4.415 Nakes di Jateng Sudah Divaksin Covid, Ganjar Ceritakan Efek Samping yang Muncul

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo melihat salah satu nakes tengah divaksin Covid-19. (MURIANEWS/Istimewa)

MURIANEWS, Semarang – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah mengumumkan sudah ada sebanyak 4.415 tenaga kesehatan (nakes) di Jateng yang telah mendapatkan vaksinasi Covid-19. Mereka berasal dari tiga daerah yakni Kota Semarang, Kabupaten Semarang, dan Kota Surakarta.

Jumlah nakes yang sudah divaksin setara 13,1 persen darri total nakes yang akan disuntik yakni sebanyak 30 ribu orang pada tahap pertama.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyebut, ada beberapa efek samping atau Kejadian ikutan PascaImunisasi (KIPI) terhadap empat ribuan nakes itu. Mulai dari pingsan, mata memerah, bengkak, hingga mual dan muntah.

Namun menurutnya, KIPI yang muncul tak berlanjut, atau tidak parah. “Ada yang nyeri lengan mual muntah dan semrepet. Trus kemudian ada yang berdebar, ngantuk paling banyak. Tapi sampai hari ini (KIPI-nya) tidak ada yang berlanjut,” katanya, usai Rapat Desain Percepatan Vaksinasi di Jawa Tengah, Rabu (20/1/2021).

Ganjar merinci jumlah nakes yang telah disuntik vaksin Sinovac. Untuk Kota Semarang ada sebanyak 2.219 orang, Kabupaten Semarang 655 orang, lalu Kota Surakarta 1.541 ini 15 orang. Data ini yang masuk ke pihaknya hingga Selasa (19/1/2021) kemarin.

Selain itu, Ganjar juga menjelaskan bahwa hingga 19 Januari kemarin, ada total 540 nakes yang harus ditunda vaksinnya karena memiliki komorbid dan 285 nakes yang tidak hadir.

“Ini kemarin sudah dicek yang tidak hadir karena lagi ada tugas, terus rumit data input, sehingga kita hari ini rapat membuat terobosan itu,” tandas Ganjar.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jateng Yulianto Prabowo menambahkan, hasil pengecekan pihaknya hingga hari ini, para nakes yang harus ditunda dan komorbid tersebut karena berhalangan seperti ada tugas atau sedang menjalani program kehamilan.

“Komorbid paling tinggi hipertensi. Lalu kemudian yang tidak hadir itu kita pastikan karena mereka sedang bertugas dan tidak ada yang declare menolak untuk divaksin,” pungkasnya.

 

Reporter: Ali Muntoha
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...