Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Menengok Langgar Bubrah di Kudus yang Dulu Sebagai Tempat Pemujaan

MURIANEWS, Kudus – Langgar Bubrah, begitu nama salah satu bangunan di Kudus yang kini menjadi cagar budaya. Langgar Bubrah, memilik struktur dengan tumpukan batu bata dengan ukiran dan relief unik, yang hampir menyerupai Menara Kudus.

Bangunan tersebut berada di Desa Demangan, Kecamatan Kota, Kudus. Letaknya pun tak terlalu jauh dari Menara Kudus, hanya berjarak sekitar 300 meter. Konon bangunan tersebut dibangun jauh sebelum adanya Menara Kudus.

Juru Kunci Langgar Bubrah, Parijoto Murio mengatakan, langgar bubrah dibangun sekitar tahun 1400 hingga 1500-an. Bangunan itu dibangun oleh Raden Pangeran Poncowati, sebelum memeluk agama Islam  dan saat wilayah Kudus masih dinamakan wilayah Jebuk.

“Sunan Kudus dulu belum menyebarkan Islam di Kudus. Langgar itu ditujukan seperti masjid, dulu langgar bubrah dijadikan sebagai tempat pemujaan kepada Sang Hyang Mena (ajaran kapitayan),” katanya, Rabu (13/1/2021).

Juru Kunci menunjukkan lingga dan yoni di Langgar Bubrah Kudus.(MURIANEWS/Yuda Auliya Rahman)

Dulu, bangunan tersebut merupakan bangunan yang utuh sebagai tempat pemujaan. Namun setelah Gunung Muria meletus sekitar 500 tahunan yang lalu, langgar tersebut pun menjadi rusak.

“Dulu (zaman penjajahan) memang tidak ada yang merusak, baik Jepang atau Belanda itu tidak merusaknya. Tapi bangunan ini rusak saat Gunung Muria meletus sekitar tahun 1.600. Waktu itu hampir semua bangunan yang berada di bawah Muria itu hancur, tapi di sini masih ada sisanya,” ujarnya.

Di sekitar bangunan Langgar Bubrah, juga ditemukan lingga dan yoni. Menurutnya, batu lingga tersebut merupakan simbol laki-laki atau kewibawaan, bahwa dulu ada sosok seorang laki-laki yang mempunyai sifat arif bijaksana.

Sedangkan untuk yoni yang merupakan gandengan batu lingga, mengartikan bahwa dulunya ada sesosok wanita yang bisa menyandingi sosok laki-laki tersebut. Batu yoni tersebut dulunya juga digunakan sebagai penyangga soko untuk atap Langgar Bubrah. “Jadi itu dulu untuk penyangga atap, seperti payung,” katanya.

Lebih lanjut, ia menceritakan  sebuah relief yang ada di batu bukanlah relief seseorang sedang memegang sapu. Namun relief tersebut merupakan Dewa Siwa yang sedang memegang Trisula.

“Memang ada beberapa cerita. (salah satunya) dulu ada orang nyapu lihat pas bangunan ini dibuat, karena kemenungsan terus tidak jadi akhirnya orang itu di-sabda jadi batu. Sebenarnya tidak seperti itu, bangunan ini memang sudah ada dan sudah berdiri. Dan rusaknya memang karena tergerus zaman” teranganya.

Kini bangunan Langgar Bubrah tersebut sudah dilakukan peremajaan satu kali pada bulan Ramadan tahun lalu oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah bersama Tim Ahli Cagar Budaya (TACB). Peremajaan tersebut, lanjut Dia, untuk tetap melestarikan bagunan bersejarah itu agar sejarahnya tidak hilang.

“Bangunan Langgar Bubrah ini, sudah diremajakan. Tapi tidak mengurangi sejarah dan tidak mengubah bentuknya,” tandasnya.

Reporter: Yuda Auliya Rahman
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...