Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Prof Darsono: UMK Kembangkan Perkuliahan Daring dan Bentengi Kampus dari Radikalisme

MURIANEWS, Kudus – Masa pandemi yang hingga kini belum menunjukkan tanda akan usai, tak menghambat Universitas Muria Kudus (UMK) untuk tetap melakukan perkuliahan, meski dengan metode yang berbeda. Metode daring, masih jadi cara yang efektif agar perkuliahan tetap berjalan sebagaimana mestinya.

Prof Dr Darsono  yang menjabat sebagai  rektor UMK akan terus menyempurnakan pola dan teknis perkuliahan daring yang sudah berjalan semenjak adanya pandemi.

“Terkait masa pandemi, UMK sudah melakukan adaptasi pada proses perkuliahan secara daring. Dengan pengembangan resources sharing sumber daya UMK, memanfaatkan teknologi, hingga melakukan kerja sama antarprogram studi agar semua mahasiswa bisa tetap mengikuti program perkuliahan,” katanya, di sela-sela pelantikan sebagai rektor, Sabtu (9/1/2021).

Adanya gedung lima lantai, dan penambahan teknologi IT yang canggih dianggap bisa memenuhi dan mendukung kebutuhan selama proses perkuliahan daring ataupun luring.

“Dengan mengupayakan optimalisasi bentuk digitalisasi dari sumber belajar dan sumber ajar. Sehingga bisa menghasilkan produk tridharma yang unggul. Baik untuk mahasiswa ataupun dosen pengajar,” ucapnya.

Menurutnya, pembelajaran daring juga memiliki banyak keuntungan untuk mahasiswa. Yakni mahasiswa akan lebih paham dan memililiki banyak waktu luang untuk mengembangkang diri di bidang IT.

Mahasiswa juga akan lebih mandiri, sebab kuliah daring memaksa mahasiswa lebih aktif dalam hal memperluas bahan materi yang sebelumnya sudah diajarkan sekilas oleh dosen.

“Mahasiswa juga bisa memperbanyak pengalaman berinteraksi dengan masyarakat dan menambah pendapatan dengan memanfaatkan waktu luang untuk membuka usaha seperti, online shop,” terangnya.

Baca: Prof Darsono Dilantik Jadi Rektor Baru Universitas Muria Kudus

Tak hanya itu, Prof Darsono juga punya cara membentengi diri agar paham radikalisme agar tak masuk di area kampus. Di mulai dari awal mahasiswa masuk, melalui mekanisme sistem preventif dengan program pengenalan kampus yang steril tanpa adanya nuanasa radikalisme.

Secara sistematis juga dituangkan dalam kurikulum perkuliahan. Seperti pendidikan agama, Pancasila dan kewarganegaraan hingga pembekalan kebelanegaraan yang bekerja sama dengan intitusi luar UMK, untuk penumbuhan kesadaran berbangsa dalam citra keagamaan yang harmonis.

“Secara struktural juga,untuk mencegah potensi radikalisme dari semua unsur. Yakni dengan mewujudkan tata kelola kehidupan kampus dalam antar agama, ras, dan budaya yang terkontrol dan bekerja sama dengan tokoh masyarakat dan tokoh agama di lingkup kampus,” terangnya.

Disinggung mengenai keputusan pemerintah yang membubarkan Front Pembela Islam (FPI), menurutnya, secara prinsip, dasar toleransi harus dijunjung tinggi dalam keragaman berbangsa di Indonesia. Maka pihak manapun yang mengingkari prinsip dasar berbangsa tersebut tentu harus disudahi.

“Pembubaran FPI oleh pemerintah, tentu sudah melalui mekanisme valuasi dan prosedur ofisionaly. Maka ini menjadi hikmah bagi dan untuk gerakan radikal lainnya,” pungkasnya.

 

Reporter: Yuda Auliya Rahman
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...