Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

19 Tahun Bermasalah, Pembangunan Gereja Dermolo Jepara Dibahas FKUB Jepara

MURIANEWS, Jepara – Pembangunan gereja di Desa Dermolo, Kembang, Jepara terus menimbulkan polemik hingga saat ini. Meski sudah 19 tahun, polemik pendirian gereja di desa tersebut selalu muncul di akhir tahun, menjelang Natal. Pasalnya, sampai saat ini proses pembangunan gereja tersebut menimbulkan pro dan kontra di tengah masyarakat.

Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Jepara, menilai persoalan ini harus bisa segera dicarikan jalan keluarnya. Sejak 2002 hingga saat ini, polemik ini selalu muncul di permukaan.

Bahkan, karena persoalan izin hingga saat ini gereja tersebut tidak diperkenankan digunakan oleh jemaatnya. Persoalan ini akhirnya dibahas FKUP pada Senin (4/1/2021) di ruang Rapat I Sekda Jepara.

Ketua FKUB Kabupaten Jepara, KH Mashudi menyatakan, pada rapat ini, pihaknya masih dalam tahap mengumpulkan informasi terkait persoalan ini. Pihaknya ingin mengumpulkan informasi sejak awal hingga akhirnya berkepanjangan selama hampir 19 tahun lebih. Dalam hal ini FKUB ingin bisa menegahi persoalan ini, sehingga diharapkan bisa diambil jalan keluarnya.

“Persoalan ini selalu muncul setiap Natal. Oleh karena itu, FKUB ingin menengahi, dengan mendengar berbagai masukan dari tokoh agama, tokoh masyarakat. Kami tentu menginginkan persoalan ini bisa selesai, jadi tidak berkepanjangan,” ujar KH Mashudi.

Dalam rapat tersebut, Hadi Nurwanto, salah satu tokoh masyarakat di Desa Dermolo menyatakan, pada saat pendiriannya, seharusnya ada rekomendasi tertulis dari Departemen Agama (Kementrian Agama). Namun hal itu tidak dipenuhi oleh panitia pembangunan gereja.

Saat itu Pemerintah Desa Dermolo juga sudah mengirimkan surat bahwa pembangunan tersebut tidak diperbolehkan. Karena sesuai hasil rapat, proses pembangunan tidak memenuhi regulasi yang disyaratkan.

“Persoalan Gereja Dermolo ini sudah terjadi sejak awal pendiriannya di tahun 2001. Sebenarnya warga Dermolo sangat toleran. Hanya saja, belum sesuai dengan regulasi yang ada. Namun, pembangunan tetap berjalan. Gereja itu juga sempat diubah dijadikan rumah milik Supardi. Namun kembali ramai lagi persoalan gereja sampai sekarang,” ujar ungkapnya.

Sedangkan dari pihak gereja, Pdt Theofolus Tumijan menyampaikan pendapat yang berbeda. Pembangunan gereja ini secara lisan sudah disetujui oleh Sarjono, Petinggi Desa Dermolo saat itu.

Dari izin lisan tersebut, pihaknya selaku pengurus GITJ Dermolo kemudian mengurus Ijin Mendirikan Bangunan (IMB). IMB kemudian didapatkan pada 9 Maret 2002. Untuk kemudian proses pembangunan langsung dilaksanakan.

Polemik kemudian muncul menyusul adanya Peraturan Bersama Menteri (PBM), yang mensyaratkan pendirian gereja harus memiliki minimal 60 jemaat, pada tahun 2006. Saat itu, tentangan atas rencana pembangunan gereja ini muncul. Akhirnya sampai saat ini setelah 19 tahun, pendirian gereja ini belum bisa selesai.

“Kami mendapatkan IMB pada 2002, kemudian baru pada tahun 2006 muncul keputusan bersama menteri itu. Kenapa kami tetap tidak boleh. Kecuali IMB kami dicabut, dan bahkan  kalaupun dicabut, kami juga akan maju akan mengupayakan,” jelas Pdt Theofolus Tumijan.

Rapat FKUB sendiri akhirnya belum bisa mengambil keputusan. Bupati Jepara, Dian Kristiandi yang hadir secara langsung juga menyatakan belum bisa memberikan statemen apapun. Pihaknya memerlukan waktu untuk mengambil keputusan yang paling baik dalam permasalahan ini. Pemkab Jepara sendiri sudah melakukan pembekuan gereja ini dalam dua kali kesempatan. Pertama pada 16 Desember 2013 dan 17 Januari 2019.

“Berikan kami waktu untuk membahas lebih jauh lagi terkait persoalan ini. Kami mohon bersabar ya, karena hal ini memang masalah yang membutuhkan kehati-hatian,” ujar Dian Kristiandi.

 

Reporter: Budi Erje
Editor: Supriyadi

Comments
Loading...