Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Puluhan Tahun Melawan Arus Sungai Bengawan Solo, Warga Luwihaji – Medalem Kini Sumringah Ada Jembatan LuMe

MURIANEWS, Blora – Peresmian Jembatan LuMe (Luwihaji-Medalem) yang menghubungkan Kecamatan Ngraho, Bojonegoro, Jawa Timur, dengan Kabupaten Blora, Jawa Tengah disambut bahagia masyarakat dua kabupaten. Bagaimana tidak puluhan tahun warga dua kabupaten tersebut dipisahkan sungai Bengawan Zolo.

Jembatan LuMe merupakan jembatan yang membentang di atas Sungai Bengawan Solo yang menghubungkan Desa Luwihhaji, Kecamatan Ngraho, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, dengan Desa Medalem, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah.

Pembangunan jembatan yang berada di Desa Luwihaji, Kecamatan Ngraho, Kabupaten Bojonegoro dan Desa Medalem, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Blora berlangsung selama enam bulan. Jembatan ini menelan anggaran Rp 97,632 miliar yang berasal dari APBD Bojonegoro Tahun Anggaran 2020 Rp 90 miliar dan APBD Blora tahun 2020 Rp 8,2 miliar.

Warga sekitar sangat antusias melihat peresmian jembatan tersebut, seperti yang dirasakan Siti Halimah, (60), nampak semangat menggandeng cucunya yang masih balita. Bersama puluhan warga lain, Mbah Siti ingin menyaksikan sejarah dalam hidupnya, yakni peresmian Jembatan Terusan Bojonegoro-Blora (TBB).

Yah, jembatan yang diresmikan Mensesneg Pratikno, Menhub Budi Karya Sumadi dan Menteri PUPR Basuki,Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, Bupati Bojonegoro anna Muawanah, Bupati Blora Djoko Nugroho pada Minggu (3/1/2021) itu memang sejak lama diidamkan warga.

Bagaimana tidak, akses satu-satunya warga untuk menyeberangi sungai Bengawan Solo yang dalam dan alirannya deras itu adalah menggunakan perahu. Tiap menyeberang, warga selalu was-was karena angkutan itu memang tidak menjamin keamanan warga.

Mbah Siti mengaku bahagia bisa melihat adanya jembatan membentang di sungai Bengawan Solo.

Tiga menteri meresmikan jembatan penghubung Kabupaten Bojonegoro dan Blora. (MURIANEWS/Priyo)

“Alhamdulillah seneng, saiki nek lewat mpun gampil (sekarang kalau menyeberang sudah mudah). Biasane nyabrang kali nganggo prau (biasanya menyeberang sungai pakai perahu), nggeh wedhi (ya takut),” katanya.

Mbah Siti mengatakan pernah melihat perahu yang digunakan untuk akses angkutan warga menyeberang itu tenggelam. Meski tak ada korban jiwa, namun kenangan itu membuatnya selalu ketakutan.

“Sakniki mpun penak, mboten wedhi (sekarang sudah mudah, tidak takut lagi. Sakniki medal bruk mawon (sekarang lewat jembatan saja). Maturnuwun, seneng banget kalih pemerintah (terimakasih banyak, senang sekali dengan pemerintah,” jelasnya.

Hal senada disampaikan Tamhadi, (60), warga lainnya. Ia mengatakan, sejak kakeknya dulu, warga memanfaatkan penyeberangan dengan perahu apabila hendak ke Bojonegoro atau ke Blora.

“Karena kalau lewat jembatan jauh, harus memutar. Jadi warga memilih naik perahu. Saya mengalami sejak kecil, ketika ongkosnya masih 500, sekarang sudah 2.000,” katanya.

Jembatan Terusan Bojonegoro-Blora dibangun pada bulan Juni 2020 lalu memiliki panjang 1.100 meter dengan lebar 9 meter. Jembatan itu menghubungkan wilayah Bojonegoro tepatnya di Desa Luwih Haji Kecamatan Ngraho dengan Kabupaten Blora tepatnya di Desa Medalem Kecamatan Kradenan. Pembuatan jembatan itu menghabiskan anggaran sekitar Rp 97,5 miliar atas kerjasama antara Pemkab Blora dan Bojonegoro itu.

Sementara itu, Ganjar mengatakan bahwa jembatan Terusan Bojonegoro-Blora sudah lama diidamkan masyarakat dari dua kabupaten itu. Mereka yang hendak menyeberang sungai Bengawan Solo, harus menggunakan perahu sederhana.

“Ini jembatan yang sudah lama diidamkan masyarakat dari dua kabupaten ini, yakni Blora dan Bojonegoro. Hari ini sudah jadi, mudah-mudahan yang beresiko tinggi karena nyeberangnya pakai getek, pakai perahu, besok bisa lewat jembatan ini,” katanya.

Ganjar juga mengapresiasi kerjasama yang baik antara Pemkab Blora dan Bojonegoro. Selain itu, Jembatan Terusan Bojonegoro-Blora juga merupakan bukti kerjasama yang baik antara Pemprov Jateng dan Jatim.

Mensesneg Pratikno juga mengapresiasi kerjasama yang baik antara dua wilayah, baik Kabupaten maupun Provinsi atas terbangunnya jembatan itu. Hal itu menegaskan, bahwa pelayanan masyarakat harus dilakukan secara bersama-sama.

“Jembatan ini menghubungkan masyarakat dua Kabupaten dan dua Provinsi. Kami sangat mengapresiasi hal ini, dan inisiatif ini perlu dikembangkan pada daerah lain,” katanya.

Pembangunan Jembatan Terusan Bojonegoro-Blora itu lanjut Pratikno diharapkan dapat mendongkrak pembangunan ekonomi kawasan antara Jateng dan Jatim. Sebab, konektivitas dua daerah sudah tersambung dengan baik.

“Ditambah tadi di Ngloram ada bandara yang bisa menghubungkan daerah-daerah ini dengan daerah lain . Mudah-mudahan akhir tahun bandara Ngloram bisa beroperasi dan bisa mengakselerasi pembangunan ekonomi di kawasan ini,” tutupnya.

 

Kontributor: Priyo
Editor: Supriyadi

Comments
Loading...