Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

KALEIDOSKOP 2020

Peristiwa Aneh Gegerkan Kawasan Muria Selama 2020

MURIANEWS, Kudus – Selama tahun 2020, ada berbagai peristiwa unik dan aneh yang bikin geger di kawasan lereng Pegunungan Muria. Peristiwa itu mulai dari aksi berbau klenik hingga peristiwa alam yang sangat langka terjadi.

Redaksi MURIANEWS mencatat setidaknya ada beberapa peristiwa aneh tersebut. Mulai dari penemuan bungkusan pocong berisi mantra dan foto gadis di pemakaman umum, hingga api alam yang disebut api abadi justru padam di wilayah Grobogan. Berikut ulasanya:

 

Barang terbungkus mori yang diduga janin. (MURIANEWS/Yuda Auliya Rahman)

Bungkusan Pocong di Makam Bakalan Krapyak Berisi Mantra dan Foto Gadis

Pada 18 Juni 2020, warga di Kabupaten Kudus digegerkan dengan penamuan delapan bungkusan mori seperti pocong dengan ukuran kecil di Makam Bakalan Krapyak, Kudus. Bungkusan pocong yang jumlahnya sembilan itu ditemukan dalam kondisi bekas terbakar.

Sempat diduga berisi mayat bayi, namun setelah diperiksa oleh pihak kepolisian banyak yang terkejut. Pasalnya, bungkusan itu berisi bangkai ayam, foto seorang gadis dan beberapa jarum. Di dalamnya juga ada kertas yang diduga sebagai mantra.

“Jumlahnya ada sembilan bungkusan. Setelah kami identifikasi, berisikan bangkai ayam, sejumlah jarum, dan foto,” kata Kasat Reskrim Polres Kudus AKP Agustinus David P, Kamis (18/6/2020) malam.

Nama gadis dan foto yang tertera dalam bungkusan pocong itu pun jadi viral di media sosial. Foto-foto isi bungkusan mori tersebut tersebar. Alhasil, nama gadis yang tertera dalam kertas mantra itu pun kini viral dan banyak diperbincangkan.

Apalagi, di kertas mantra itu juga disertakan alamat dan nama gadis itu yang inisialnya YF. Yakni di Desa Karangmalang, Kecamatan Gebog, Kudus. Pihak keluarga mengaku heran dan menyerahkan kasus itu ke pihak kepolisian.

 

Kawasan Kesongo yang kini terkenal karena semburan lumpur. (MURIANEWS/Dani Agus)

Letusan Padang Kesongo Blora dan Legenda Ular Raksasa Putra Ajisaka

Peristiwa yang cukup langka dan mengejutkan terjadi di tanah lapang seluas ratusan hektare di wilayah Desa Gabusan, Kecamatan Jati, Blora, Kamis (27/8/2020). Lumpur bercampur gas belerang menyembur dari kawasan itu.

Padang oro-oro yang terbentang antara wilayah Blora dan Grobogan ini dinamakan Kesongo. Fenomena alam ini pun viral di dunia maya. Meski fenomena itu sudah berlalu beberapa hari lalu, namun masih banyak orang yang membicarakan kejadian itu.

Terutama, pembicaraan yang berkaitan dengan kisah legenda terjadinya kawasan Kesongo.

Dari cerita turun temurun, di sekitar lokasi itu dulunya menjadi tempat pertapaan ular raksasa bernama Jaka Linglung, yang disebut-sebut sebagai putra Prabu Ajisaka.

Menurut Pujiyanto, pemerhati wisata dan budaya asal Grobogan, pada awalnya, Ajisaka enggan mengakui Jaka Linglung sebagai putranya. Seiring berjalannya waktu, Ajisaka bersedia mengakui Jaka Linglung sebagai anaknya tetapi dengan persyaratan khusus.

Persyaratan pertama, Jaka Linglung harus bisa membunuh Bajul Putih (buaya putih) jelmaan dari Dewata Cengkar yang berada di pantai selatan.

Setelah menempuh perjalanan panjang, Jaka Linglung akhirnya mampu membunuh Bajul Putih dan membawa kepalanya untuk diserahkan pada Ajisaka.

Setelah ini, Jaka Linglung diminta melakukan satu hal lagi. Yakni, bertapa di kawasan hutan belantara. Saat bertapa, Jaka Linglung tidak boleh makan dan minum, kecuali ada makanan yang masuk ke dalam mulutnya.

Akhirnya Jaka Linglung melakukan pertapaan dengan mulut terbuka. Seiring perjalanan waktu, bagian mulut ular raksasa itu tertutup semak belukar, sehingga bentuknya terlihat seperti sebuah gua.

Pada suatu hari, ada sepuluh orang anak yang menggembalakan ternaknya tidak jauh dari lokasi pertapaan itu. Tidak lama kemudian, turun hujan deras dan sepuluh anak itu kemudian berlarian untuk mencari tempat berteduh.

Akhirnya mereka menemukan gua yang sebenarnya adalah mulut dari Jaka Linglung. Dari sepuluh anak itu, sembilan di antaranya kemudian masuk ke dalam gua.

Sedangkan satu anak lagi yang kondisinya saat itu sedang sakit kulit, dilarang ikut masuk ke dalam gua.

Setelah sembilan anak itu masuk, tidak lama kemudian, mulut gua itu tertutup. Melihat kejadian ini, satu anak yang ada di luar langsung lari untuk mengabarkan peristiwa itu pada penduduk desa.

Dari sinilah disebut asal-usul nama Kesongo. Kata ini dipercaya berasal dari kata sanga yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia adalah sembilan. Mengacu pada sembilan anak yang hilang.

“Lokasi hilangnya sembilan anak karena tertelan dalam gua itu kemudian dinamakan Kesongo. Sedangkan titik semburan lumpur itu ceritanya merupakan tempat munculnya Jaka Linglung dari dalam bumi. Dari cerita yang berkembang, Jaka Linglung ini kalau berkelana lewatnya dalam perut bumi, tidak berjalan di atas bumi karena khawatir bikin takut banyak orang,” katanya, Sabtu (29/8/2020).

 

Petugas dari Dinas ESDM Wilayah Kendeng Selatan melakukan penelitian di Api Abadi Mrapen. (MURIANEWS/Dani Agus)

Api Abadi Mrapen di Grobogan Tiba-Tiba Padam

Yang tak kalah menggemparkan adalah peristiwa padamnya api abadi di Mrapen Grobogan. Api alam itu selama ini tak pernah padam, hingga biasa digunakan untuk kegiatan keagamaan maupun api untuk menyalakan obor even olahraga tingkat nasional hingga internasional.

Api di objek wisata yang berada di Desa Manggarmas, Kecamatan Godong, Grobogan itu mulai padam pada akhir September 2020.

Kades Manggarmas Achmad Mufid menyebut jika api itu tidak padam seketika tetapi berlangsung bertahap. Awalnya, api terlihat meredup karena kandungan gas yang ke luar diperkirakan berkurang. Baru setelah itu, api padam.

Setelah dilakukan penelitian, padamnya api abadi itu ada sangkut pautnya dengan pengeboran sumur yang lokasinya tak jauh dari api abadi.

Sementara Kepala Dinas ESDM Wilayah Kendeng Selatan Teguh Yudi Pristiyanto melalui Kasi Energi Sinung Sugeng Arianto mengatakan, pada tanggal 12 September 2020 lalu, sempat ada semburan air bercampur gas dari kegiatan pengeboran sumur yang lokasinya tidak jauh dari Api Abadi Mrapen.

Semburan itu akhirnya bisa terhenti setelah warga dan pihak desa menutup lokasi semburan dengan koral. Namun air dan gas masih merembes keluar dari lubang sumur bor.

 

Reporter: Yuda Auliya Rahman, Dani Agus
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...