Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Sukun Samping
Sukun Samping

OPINI

Memaknai Natal di Masa Covid-19

Moh Rosyid *)

SEJAK akhir tahun 2019 hingga kini, persoalan wabah covid belum tuntas karena faktanya masih ada dan makin ‘ada’ tatkala di-‘mediakan’ dan direspon oleh ragam kalangan. Hal utama yang harus ditaati adalah protokol kesehatan (terutama) di ruang publik dengan bermasker, hal ini awalnya hanya bagi yang positif dan kini yang positif dan negatif covid, mencuci tangan dengan pembersih seusai beraktivitas, menjaga jarak agar tidak tertular virus.

Pertanyaannya, bila ketiganya dilakukan dan kondisi sehat/fit maka tak mengosongkan tempat ibadah pada jadwalnya wujud berjati diri. Bila sehat dan melakukan tiga upaya tapi mengosongkan tempat ibadah diganti ibadah jarak jauh (daring) yang terjadi adalah takut bayang-bayang.

Agama apa pun tak mengajarkan ketakutan. Takut mati hal wajar, tapi ketakutan mati bagian dari penyakit yang belum ada obatnya di apotek.

Mengapa terjadi ketakutan?. Ini akibat mendewakan akal dan lupa bahwa datangnya ajal wewenang Tuhan, tak dapat diajukan atau ditunda oleh siapa pun, kematian tiba tak selalu diawali sakit. Siapa pun yang hidup pada saatnya akan menemui ajal, kapan dan di mana kematian rahasia Tuhan.

 

Mendiskusikan Natal

Sumber hukum Islam (al Quran dan Al Hadis) memuat ajaran yang bersifat sharih (tegas, jelas) atau qath’i (pasti) misal, hukum memakan babi, anjing, darah adalah haram tapi boleh dikonsumsi bila darurat dengan syarat tertentu. Kemudian dhonni (memerlukan interpretasi, penafsiran) karena masa Nabi Muhammad tak ada, misal narkoba, hukumnya disamakan/diqiyaskan (mencari illat hukum) dengan khamr (sama-sama membahayakan kesehatan sehingga sama-sama haram dikonsumsi).

Dalam konteks lain, akhir Desember tertradisi mengucapkan perayaan Hari Raya Natal. Dalam Al Quran terdapat ucapan selamat pada para nabi yakni Nuh, Ibrahim, Musa, Harun, Yahya, dan Isa.

Perihal muslim mengucapkan Natal, Al Quran surat Maryam ayat 13 “…salam sejahtera (semoga) dilimpahkan kepadaku (Nabi Isa/Yesus) pada hari Natalku (Nabi Isa) hari wafatku (Nabi Isa) dan pada hari ketika aku (Nabi Isa) dibangkitkan hidup kembali”.

Ada dua pandangan perihal muslim memberi ucapan Natal: (1) Dilarang karena mengakui Isa sebagai Tuhan (dalam Islam, Isa sebagai utusan Tuhan/nabi) dan dilarang menyerupai asesorinya (misal memakai salib), (2) diperbolehkan bila ucapannya memandang Isa sebagai nabi.

Al Quran surat Maryam ayat 30 “…Isa/Yesus berkata: sungguh aku hamba Tuhan, Tuhan memberiku Injil dan mengutusku sebagai nabi…”. Perbedaan fundamental ini tak untuk dipertentangkan antarkeduanya karena menyangkut keyakinan (aqidah).

Perlu jalan tengah menyikapi ucapan Natal berpijak pada Al quran (1) surat al-Mumtahanah ayat 8 “…Allah tak melarangmu  (muslim) berbuat baik pada siapa saja (apa pun agamanya) yang tak memusuhimu dan tak mengusirmu dari wilayahmu karena beda agama…”,(2) surat an-Nisa’ ayat 86 “…bila muslim dihormati, hormatilah mereka (apa pun agamanya) dengan cara yang lebih baik..”. Umat

Nasrani (Katolik dan Kristen) pun ada yang menghormati muslim dengan ucapan selamat Hari Raya Idul Fitri sebagai wujud sesama hamba Tuhan yang menghormati, maka muslim pun memberi balasan kesetiatemanan untuk saling mengucapkan. Asalkan, tak mengubah keyakinan teologis.

Mentradisikan menghargai perbedaan, sebagai wujud kedewasaan beragama. Selamat merayakan Hari Natal 2020 dan selamat Tahun Baru 2021 M. Semoga Covid-19 segera berlalu. Nuwun. (*)

 

*) Penulis adalah pegiat Komunitas Lintas Agama dan Kepercayaan (Tali Akrap) dan dosen IAIN Kudus

Comments
Loading...