Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Suluk Maleman, Anis Sholeh Ba’asyin: Saat Ini Kuasa Menentukan Arah Pengetahuan

MURIANEWS, Pati – Peralihan zaman telah menggeser posisi kuasa dan pengetahuan. Apabila pengetahuan sempat digadang menjadi penentu arah kuasa, tetapi saat ini justru berbalik arah. Kuasa malah menentukan arah pengetahuan.

Anis Sholeh Ba’asyin, penggagas Ngaji NgAllah Suluk Maleman, menengarai bahwa sekarang ini bukan lagi pengetahuan yang memberi kuasa, melainkan kuasalah yang menentukan pengetahuan.

“Maka dari itu ketika ada dua kekuatan besar, yang diadukan bukan lagi apa itu kebenaran. Tapi adu kekuatan siapa yang lebih banyak diikuti orang. Jadi ukurannya massa atau banyaknya pendukung,” ujarnya dalam acara suluk maleman yang dihelat secara virtual, Sabtu (19/12/2020).

Menurutnya, hal semacam itulah yang kemudian menjadikan sumber masalah. Ketika orang menganggap benar itu adalah apa yang diproduksi oleh kekuasaan.

“Memang, kekuasaan tidak selalu identik dengan pemerintah; tapi dalam banyak hal, pemerintah dan negaralah yang hampir selalu punya akses terbesar dalam mengelola kekuasaan,” jelasnya.

Menurut Anis, seharusnya ada basis kebenaran yang jelas. Meskipun kebenaran hanya milik Allah, dan yang dibangun manusia selalu mengandung unsur tafsir; karena itu harus ada konsensus bersama berdasar akal sehat tentang apa yang dianggap kebenaran.

“Tidaklah pantas dalam situasi krisis seperti sekarang ini mempertontonkan sikap adigang, adigung, adiguna, dan memaksakan tafsir kebenarannya sendiri,” ungkapnya.

“Sebagai rakyat, kita juga harus punya kedaulatan. Jangan dengan mudah mengiyakan atau mendukung sesuatu yang kita tidak paham persoalannya. Jangan lupa, kalau kita membenarkan kedzoliman yang dilakukan orang lain, kita akan menanggung dosa yang sama dengan pelakunya,” tegasnya.

Anis menegaskan bangsa Indonesia dibangun dengan kasih sayang. Namun sayangnya sekarang ini banyak pihak malah mengisinya dengan kebencian. Banyak yang menyebar kebencian itu lewat pesan berantai di media sosial. Sehingga orang yang tak tahu apa-apa ikut saling membenci dan saling memusuhi.

“Kembalilah ke jalan kasih sayang, jangan ada kebencian pada siapapun. Karena Allah pun mengasihi manusia. Kalau Allah percaya pada manusia kenapa kita tidak saling percaya,” tegasnya.

Sujiwo Tejo, budayawan yang turut mengisi Suluk Maleman menyebut bahwa jika merujuk ke Asmaul Husna maka akan jelas bahwa pusatnya adalah di Ar Rahman dan Ar Rahhim.

“Sudah lama aku yakini, meski asmaul husna yang juga menghimpun sifat yang saling bertolak-belakang, tapi karena pusatnya adalah pada Ar Rahman dan Ar Rahim; maka semua paradoks itu langsung sirna. Sejajar dengan itu, semua orang pun boleh melakukan apa pun yang dia anggap benar, namun semua harus dilakukan berdasar kasih sayang juga. Baik dalam rangka penindakan hukum maupun aksi demonstrasi,” jelas Sujiwo Tejo.

“Sayidina Ali saja memberi contoh luar biasa. Tak jadi membunuh musuhnya karena diludahi. Beliau takut, tindakannya tidak lagi murni karena Allah, tapi sudah bercampur kebencian,” tutupnya.

 

Reporter: Cholis Anwar
Editor: Supriyadi

Comments
Loading...