Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Awal Desember, Setiap Hari Dua Warga Jepara Meninggal karena Covid-19

MURIANEWS, Jepara – Penanganan kasus Covid-19 di Jepara menunjukan fakta-fakta yang harus segera mendapatkan perhatian dari semua pihak. Pandemi yang sudah memasuki pekan ke-50 ini, di Jepara nampaknya belum menunjukan tanda-tanda akan segera mereda. Bahkan jika dilihat dari sisi angka kematian, kencederungan terjadi peningkatan dampak justru makin terlihat.

Pandemi Covid-19 di Jepara ditetapkan sejak April 2020 lalu, dan hingga saat ini sudah hampir sembilan bulan berlangsung. Angka kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di Jepara hingga saat ini bahkan sudah menembus angka 3.000 lebih kasus.

Dari jumlah itu, angka kematian Covid-19, sudah mencapai 288 kasus, dihitung hingga 14 April 2020. Bahkan dalam dua pekan terakhir, angka kematian yang terjadi cukup tinggi.

Data di Pusat Data, Informasi dan Komunikasi (Pusdatinkom) pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jepara menunjukan dalam 15 hari terakhir, sejak Desember, ada banyak kasus kematian terjadi.

Sejak 1 Desember 2020 hingga 14 Desember tercatat ada 35 kasus kematian. Artinya, jika dirata-rata maka dalam kurun waktu di awal Desember ini, ada dua sampai tiga kasus kematian dalam seharinya, yang diakibatkan oleh Covid-19.

“Jadi angka 288 tersebut merupakan jumlah komulatif sejak April 2020, awal pandemi berlangusung. Jumlah tersebut memang termasuk angka kematian dengan kasus probable Covid-19. Namun sebagian besar merupakan angka kematian dari kasus terkonfirmasi positif Covid-19,” ujar M Zainnudin, petugas BPBD Jepara, Rabu (16/12/2020).

Kasus-kasus kematian yang terjadi begitu banyaknya setiap hari dalam 15 hari terakhir, diakui menimbulkan tantangan besar dalam penangananya. Misalnya untuk masalah pemakamannya, kasus yang terjadi membuat Tim Pemakaman yang dikoordinir BPBD Jepara harus bekerja keras.

Tim Pemakaman BPBD Jepara yang terdiri dari dua kelompok, dituntut untuk bisa melaksanakan tugasnya, sesuai dengan aturan protokol covid 19.

Sejak akhir Nopember, kasus-kasus kematian terjadi dalam intensitas tinggi. Bahkan saat proses pemakaman satu kasus belum selesai, sudah disusul dengan kematian dari kasus yang lain.

Hal ini jelas membuat Tim Pemakaman harus bisa mengatur waktu dan mengatur tenaga SDM yang dimilikinya. Cuaca yang sudah mulai memasuki musim penghujan, menambah tantangan bagi Tim Pemakaman BPBD Jepara ini.

“Pada tanggal 1 dan 3 Desember kami harus memakamkan empat jenazah sekaligus. Lalu Tanggal 4 Desember, kami dalam sehari harus menangani lima pemakaman sekaligus. Lainya, paling sedikit kami harus menangani dua pemakaman dalam sehari. Akhir-akhir ini memang cukup berat tugas yang harus dilaksanakan,” tambah M. Zaennudin.

Sementara itu, dari Tenaga Kesehatan (Nakes) di garda depan Penanganan Covid-19 di Jepara, banyaknya angka kematian juga menimbulkan tantangan tak kalah beratnya. Dari banyak kasus kematian, tidak semuanya gampang untuk ditangani sesuai dengan prosedur penanganan Covid-19.

Ada kalanya terjadi perbedaan pendapat mengenai penanganan jenasah antara para Nakes dengan pihak keluarga yang meninggal. Situasi ini tidak saja menimbulkan ‘perang’ argumentasi, namun juga menempatkan para Nakes berada di wilayah yang berisiko tinggi tertular Covid-19.

“Kadang masalah penanganan jenazah, menjadi persoalan tersendiri. Penanganan jenasah yang terlalu lama menimbulkan resiko bagi para Nakes, karena potensi tertular menjadi lebih besar. Kadang malah ada yang menolak, yang akhirnya menimbulkan potensi penularan di masyarakat. Padahal akhir-akhir ini kasus kematian menunjukan grafik meningkat,” ujar Hadi, salah satu Nakes yang bertugas di Wilayah Kedung, Rabu (16/12/2020), secara terpisah.

 

Reporter: Budi Erje
Editor: Supriyadi

Comments
Loading...