Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Lahan Pertanian Rawan Puso Akibat Banjir di Kudus Mulai Dipetakan

MURIANEWS, Kudus – Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kudus mulai memetakan lahan pertanian yang terendam banjir. Hal itu dilakukan guna menentukan kerugian akibat puso atau gagal panen.

Kepala Seksi Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Pangan Kudus Arin Nikmah mengatakan, pihaknya saat ini baru melakukan pemetaan.

“Kami baru cek yang tergenang sampai lima hingga enam hari untuk menentukan yang puso atau gagal panen. Kalau baru dua sampai tiga hari belum bisa dikatakan puso,” katanya, Selasa (15/12/2020).

Ditanya soal gagal panen, Arin menyampaikan untuk penghitungan gagal panen atau puso yakni setelah lahan pertanian terendam lima sampai enam hari.

“Kalau padi itu dikatakan puso setelah terendam lima sampai enam hari. Kalau baru tiga hari belum bisa dikatakan gagal panen,” ujarnya.

Lebih lanjut, menurut Arin saat ini baru Desa Gondoharum, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus yang sudah tergenang selama lebih dari enam hari.

“Untuk lahan pertanian di Gondoharum itu memang sudah sejak Selasa lalu tergenang. Kalau Karangrowo berpotensi puso tapi saat ini masih belum,” terang dia.

Lebih lanjut, menurut dia penghitungan kerugian akibat gagal panen bervariatif. Yakni bergantung pada umur tanaman.

“Untuk nilai kerugian itu variatif. Tergantung umur tanaman. Kami ada hitungannya untuk umur tanaman di bawah 60 HST atau Hari Setelah Tanam itu kerugiannya Rp 7,5 juta. Kalau di atas 60 HST, kerugiannya berkisar Rp 15 juta per hektare,” tandasnya.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, per Kamis (10/12/2020) pekan kemarin, lahan pertanian di Kecamatan Undaan paling banyak terendam. Yakni sebanyak 791 hektare.

Diikuti Kecamatan Jekulo dengan 529 hektar. Lalu Kecamatan Mejobo 374 hektar, Kecamatan Jati 20 hektare, dan Kecamatan Kaliwungu 4 hektare.

 

Reporter: Vega Ma’arijil Ula
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...