Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Industri Rokok Skala Kecil di Kudus Mulai Bangkit dari Dampak Pandemi

MURIANEWS, Kudus – Geliat industri rokok berskala kecil di Kabupaten Kudus kini mulai bangkit kembali. Usai terdampak pandemi corona di awal tahun ini.

Total dan omzet produksi yang sempat anjlok pun kini berangsur stabil kembali. Walau belum seratus persen, kenaikan produksi dan omzet kini mulai berangsur stabil.

Salah satu perusahaan rokok yang mulai bangkit kembali adalah Perusahan Rokok (PR) Rajan Abadi. Pabrik yang berproduksi di Kawasan Industri Hasil Tembakau (KIHT),  Desa Megawon, Kecamatan Jati Kudus tersebut pun mulai menaikkan produksinya.

Pemiliknya, Sutrisno mengaku  jumlah produksi dan omzet yang didapat kini sudah 90 persen normal kembali. Empat produk rokoknya pun kini sudah mulai disebar di sejumlah daerah di Indonesia.

“Sudah normal walau belum seratus persen,” kata dia ketika dijumpai di pabriknya Jumat (11/12/2020).

Saat awal-awal pandemi, kata dia, omzet dan produksinya bisa turun drastis di bawah 50 persen. Hal tersebut dikarenakan adanya pembatasan-pembatasan yang dilakukan sejumlah daerah pemasarannya.

“Saat itu bingung sendiri, sempat tidak produksi, terus pertama kali produksi hanya dua ribu batang rokok saja,” lanjutnya.

Namun saat ini, produksi rokonya sudah berangsur normal. Dengan jumlah pegawai sekitar 150 orang, pihaknya pun menerapkan protokol kesehatan di braknya.

“Walau produksi naik, kami tetap mengedepankan protokol kesehatan di dalam brak, sehingga tidak ada penularan corona di sana,” tandasnya.

Senada, pemilik PR Betoro Gutru Syafi’i yang tiap harinya kini bisa memproduksi sekitar 40 ball rokok. Perballnya, kata dia, adalah sebanyak 200 bungkus rokok. Sementara per bungkusnya, berisi 12 rokok.

“Kami mempekerjakan setidaknya 75 orang untuk memenuhi kebutuhan pasar,” kata dia.

Rokok-rokok hasil produksinya tersebut lantas dikirim ke sejumlah daerah di Pulau Jawa dan Sumatera. “Semua pendistribusian masih aman,” kata dia.

Soal mengapa rokok golongan tiga sudah tak terpengaruh pandemi, Syafii menduga jika banyak orang beralih ke rokok murah di era pandemi seperti ini. Karena stabilitas ekonomi juga tengah goyah. “Jika rokok kelas atas paling murah Rp 14 ribu, kami hanya Rp 8 ribu saja,” jelas dia.

 

Reporter: Anggara Jiwandhana
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...