Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

DKK Kudus Sarankan Tiap Rumah Punya Tiga Sistem Pengelolaan Air Limbah

MURIANEWS, Kudus – Sebanyak 95 Persen wilayah di Kudus memiliki risiko tinggi terhadap pengelolaan limbah rumah tangga. Oleh sebab itu, Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus mengimbau setiap rumah memiliki Saluran Pengelolaan Air Limbah (SPAL) yang dibedakan sesuai ketegori limbah.

Idealnya, tiap rumah memiliki tiga SPAL. Ini untuk mengolah limbah yang teridir dari limbah black water, limbah grey water, dan limbah white water. Ketiga limbah tersebut sedianya tidak boleh dicampur.

Untuk limbah black water itu merupakan limbah yang di dalamnya terdapat tinja. Sedangkan untuk limbah grey water itu merupakan limbah nontinja yang berasal dari rumah tangga. Salah satunya limbah yang dihasilkan dari detergen cuci pakaian.

Sedangkan untuk white water merupakan limbah bukan dari rumah tangga. Tetapi untuk white water biasanya langsung mengarah ke saluran drainase. Salah satunya air hujan.

Menurut Staf Bidang Kesehatan Lingkungan, Kesehatan Kerja dan Olahraga DKK Kudus Budiarto, penangan tiga kategori limbah itu harus dibedakan.

“Penanganannya harus berbeda. Untuk limbah black water penampungannya harus kedap air. Hal seperti ini yang sering terjadi di masyarakat. Mereka belum tahu. Sehingga bisa mencemari lingkungan,” katanya, Kamis (19/11/2020).

Lebih lanjut, dia mengatakan bahwa terkadang masih terjadi kebocoran limbah black water. Hal itu dapat menjadi masalah ketika kebocoran terjadi di dekat sumber air minum seperti sumur.

“Idealnya itu jarak antara septic tank dengan sumber air minum sepuluh meter. Tapi jarak sepuluh meter kalau lahannya sempit jelas tidak mungkin. Kecuali daerah seperti pedesaan yang sebagian wilayahnya masih luas,” ujar dia.

Lebih lanjut, Budiarto memberikan penjelasan alasan ketiga limbah tersebut tidak boleh dicampur. Sebab, limbah black water seperti tinja itu ketika bercampur dengan sabun tidak dapat terurai.

“Kalau black water dicampur dengan grey water dan white water yang misalnya di dalamnya ada sabun, tinja tidak dapat terurai. Karena ketika terkena bahan kimia, bakteri pengurai akan mati,” ujarnya.

Oleh karena itu Budiarto berharap masyarakat memiliki tiga SPAL. “Harusnya punya tiga SPAL. Tapi kalau harus punya tiga mungkin berat. Setidaknya dua. Jadi black water sendiri, yang satunya lagi untuk grey water dan white water dijadikan satu tidak masalah,” imbuhnya.

 

Reporter: Vega Ma’arijil Ula
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...