Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

OPINI

Revitalisasi Pembelajaran Agama

Hamam Fitriana *)

SUATU hari, ada guru Agama yang meminta saran dengan meyodorkan kertas yang berisi kegiatan belajar siswa di rumah saat pademi Covid-19 melanda Indonesia. Betapa mengejutkan ketika membaca indikator kegiatan siswa yang penekanannya hanya pada hal-hal yang kognitif dan ibadah vertikal.

Kegiatan mengetahui, menghafal, dan memahami materi mendapat porsi lebih, begitu pula dengan salat, doa, dan zikir yang terkoneksi langsung dengan Tuhan. Hal ini dapat ditebak ke mana orientasi hasil (output) pendidikan agama, yakni hanya mencetak siswa yang hebat berbicara, berargumen, berdebat, dan saleh ritual.

Jadi tidak perlu diragukan lagi ketangkasan siswa ihwal simbol agama, legal-formal agama, dan ritus-ritus agama.

Maraknya kasus orang beragama yang menebar hoaks, hate speech, korup, dan serakah, serta banyak orang yang setiap tahun haji dan umroh tetapi terjerat korupsi padahal sejak kecil belajar agama. Hal ini mengindikasikan bahwa pembelajaran Agama tidak cukup hanya berbekal kognitif dan saleh ritual, akan tetapi perlu pula membekali siswa dengan saleh sosial.

Guru Agama perlu merancang ulang kegiatan belajar siswa yang dapat mengakomodasi secara proporsional bekal kognitif, saleh ritual, dan saleh sosial.

 

Implementasi Taksonomi Bloom

Pendidikan kontemporer terus berprogres untuk menemukan formula terhadap kesenjangan antara teori dan realitas. Disparitas yang terjadi dalam pendidikan membuat para pemangku kebijakan merancang pelbagai terobosan, salah satunya berwujud kurikulum.

Kurikulum bila ditarik ke dalam preses pembelajaran tidak terlepas dari pemenuhan ranah kognitik, afektif, dan psikomotorik. Tiga ranah yang dikenal sebagai teori Taksonomi Bloom tersebut merupakan komponen integral dalam kegiatan pembelajaran. Sehingga dianggap tidak sempurna sebuah pembelajaran apabila tidak menghidupkan tiga ranah tersebut.

Realitasnya, guru agama dalam proses kegiatan pembelajaran masih nyaman dengan status quo dengan hanya berorientasi pada pengetahuan, simbol-simbol, hafalan, dan legal-formal agama. Hal tersebut cenderung hanya memberikan porsi pemenuhan pada ranah kognitif.

Paling banter dalam pembelajaran agama hanya sampai pada ranah afektif. Sehingga siswa selain tahu dan paham (kognitif) juga ada keinginan bertindak yang berasal dari dorongan emosional (afektif) yang kuat, tetapi belum pada taraf tindakan nyata.

Kalaupun ada pemenuhan ranah psikomotorik dalam kegiatan pembelajaran agama, sifatnya masih individual-vertikal atau sholeh ritual. Artinya kegiatan pembelajaran hanya terbatas pada praktik individu seperti sholat, berdo’a, puasa, dan zakat. Sehingga mencetak siswa yang hanya rajin dan tekun menjalankan ritus agama.

Sedangkan kegiatan mengetuk pintu panti asuhan, rumah orang miskin, orang sakit dengan memberikan bantuan belum tersentuh. Kegiatan siswa yang dihadapkan pada realitas untuk menyelesaikan persoalan umat itulah bentuk sholeh sosial. Belum tergarapnya kesalehan sosial dalam kegiatan pembelajaran, mengakibatkan adanya orang-orang beragama yang mengalami degradasi akhlak.

Sebuah cerita menarik dalam sebuah novel Orang-Orang Proyek karya Ahmad Thohari yang menceritakan terjadinya pergolakan jiwa Kabul dan Basar sebagai mantan aktivis Kampus. Kabul dan Basar dihadapkan pada realitas di lapangan yang tidak sesuai dengan idealisme mereka dalam memperjuangkan kebenaran.

Terjadinya perilaku curang, korup, dan manipulatif hidup subur di tengah-tengah masyarakat, membuat Kabul dan Basar berdiskusi ihwal akhlak. Kabul dan Basar mengkritik perilaku masyarakat yang hanya sholeh ritual tanpa dibarengi dengan saleh sosial. Perdebatan yang menghasilkan konklusi bahwa saleh sosial perlu didahulukan dalam bermasyarakat. Sebagaimana tujuan risalah kenabian Muhammad SWA, yang diutus tidak lain untuk menyempurnakan akhlak manusia.

Dalam rangka penguatan bekal pengetahuan, saleh ritual, dan saleh sosial, Haidar Bagir dalam bukunya Memulihkan Sekolah, Memulihkan Manusia menekankan agar antara kesadaran maupun keinginan dan tindakan tidak ada gap maka perlu adanya menanamkan disiplin dan kebiasaaan (habit). (*)

 

*) Aktif di Rumah Kearifan (House of Wisdom)

Comments
Loading...