Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Desa Tempur Jepara Mulai Budidayakan Parijotho Khas Lereng Muria

MURIANEWS, Jepara – Tanaman Parijotho, merupakan tumbuhan khas di dataran tinggi. Di wilayah Gunung Muria, tanaman ini salah satunya terdapat di Desa Tempur, Keling, Jepara. Di kawasan Dukuh Duplak, Desa Tempur, tanaman Parijotho bahkan sudah mulai dibudidayakan. Dari awalnya merupakan tumbuhan liar, kini Parijotho mulai ditanam di pekarangan dan lahan milik warga di Dukuh Duplak.

Rusmin Nuryadin, salah satu petani di Dukuh Duplak yang menggeluti bidang budidaya Parijotho menyatakan, saat ini dirinya sudah memiliki ratusan bibit Parijotho. Kegiatan ini sudah dilakukannya dalam 3 tahun terakhir, dan dirasakan memiliki prospek cukup bagus.

Dikatakannya, sebelum ini beberapa warga memang harus mencari Parijotho di lereng Muria sebelah utara, atau tepat di atas desa mereka. Namun kini, tanaman Parijotho sudah dibudiaya dan ditanam di lokasi-lokasi yang tidak jauh dari pemukiman.

Parijotho sendiri dikenal sebagai buah dengan warna merah keunguan. Banyak orang yang mencari buah ini karena adanya mitos bahwa Parijotho berkasiat bagi kesuburan hormonal wanita.

Sehingga orang yang ingin memiliki anak banyak yang percaya, dengan mengkonsumsi buah Parijotho ini orang akan bisa cepat mendapatkan anak, atau bayi yang ada di dalam kandungan akan tumbuh menjadi anak yang berparas cakap.

“Saya sudah 3 tahunan ini menggeluti budiya Parijotho. Sebelumnya orang-orang harus mencari ke gunung untuk mendapatkannya. Tapi sekarang tidak harus naik gunung, karena sudah ditanam di dekat-dekat sini saja,” ujar Rusmin, Kamis (12/11/2020).

Parijotho yang ada di Duplak, menurut Rusmin selama ini dipasarkan ke Kudus, khususnya di Makam Sunan Muria, Colo, Dawe. Secara berkala, beberapa pedagang dari Kudus datang ke Duplak, untuk membeli buah Parijotho, untuk dijual kembali. Harganya biasanya didasarkan pada ukuran dan banyaknya buah dalam setiap tangkai. Kisarannya antara Rp 5 ribu sampai Rp 8 ribu setiap tangkainya.

Menyusul berkembangnya pariwisata di Desa Tempur dan Duplak, saat ini sebagian Parijotho juga sudah dipasarkan oleh warga sendiri. Bahkan para pengunjung yang datang ke Duplak, kadang-kadang juga malah membeli bibit tanaman Parijotho. Untuk bibit tanaman Parijotho biasanya dijual dengan harga Rp 30 ribu sampai Rp 50 ribu, bergantung ukurannya.

“Kalau buah Parijotho memang lebih banyak dibeli oleh pedagang dari Kudus untuk dijual kembali. Namun sekarang untuk bibit tanaman Parijotho juga sudah mulai diminati orang. Disini kami juga menjualnya,” jelas Rusmin.

Sementara itu, Kabid Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (TPHP) Pertanian di DKPP Jepara, Dian Satriadi menyatakan, tanaman Parijotho memang sudah lama dikenal di kawasan Tempur. Pihaknya melihat tanaman ini memiliki potensi untuk bisa dikembangkan sebagai bagian dari peningkatan ekonomi masyarakat. Saat ini komuditasnya memang belumlah besar. Namun peluang untuk mengembangkannya masih terbuka lebar.

“Kabupaten Jepara juga sudah mendapatkan sertifikat tanda terdaftar verietas local untuk Parijotho ini dari Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian Kementerian Pertanian.Sertifikat ini sudah diterima sejak Desember 2019 lalu,” ujarnya.

 

Reporter: Budi Erje
Editor: Supriyadi

Comments
Loading...