Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Kisah Pratama Arhan, Pemain Timnas U 19 Anak Tukang Sayur Keliling di Blora

MURIANEWS, Blora – Pemain muda klub Liga 1 PSIS Semarang, Pratama Arhan Alif Rifai mendapat kesempatan baru saat ia mengikuti pemusatan latihan Timnas Indonesia U-19 di Kroasia beberapa bulan terakhir ini.

Tak hanya berkesempatan bermain untuk skuat Garuda Muda, pemain kelahiran Blora 21  Desember 2001 ini juga ditunjuk menjadi kapten Timnas Indonesia U-19 saat laga ujicoba melawan Macedonia Utara, di Kroasia pertengahan Oktober lalu.

Pratama Arhan Alif Rifai  atau bisa di panggil Arho lahir dari pasangan suami istri Sutrisno dan Surati. Ibu Arho setiap harinya bekerja sebagai penjual sayur keliling.

Rumah sedarhana berdinding kayu, beralas tanah menjadi saksi lahirnya pemain Timnas U-19 dari Blora ini. Di dinding kayu itu dijejali foto-foto Arho, sejak kecil.

Foto sejak dia pertama kali tercatat sebagai pemain SSB Putra Mustika Blora sampai foto sebagai pemain timnas U-19. Sejumlah medali yang dikemas dalam pigura juga tampak rapi menggantung di dinding kayu.

Tinggal di Dukuh Karangnongo, Desa Sidomulyo, Kecamatan Banjarejo, Blora atau berjarak 17 KM dari pusat kota Blora tidak menyurutkan cita-cita Arho untuk menjadi pemain bola dengan segudang prestasi. Ternyata, darah sepak bola yang dimiliki Arho turun dari kakaknya yang juga pemain bola di SSB Putra Mustika.

Dari SSB Putra Mustika, dia memulai karirnya sebagai pemain sepak bola. Saat itu, Arho masih duduk di bangku kelas empat sekolah dasar. Selepas lulus, Arho mencoba peruntungan dengan mendaftar di Akademi Terang Bangsa Semarang.

Terang Bangsa membuat karir Arho kian mentereng setelah akhirnya dia didapuk dalam kesebelasan PSIS U-18. Kualitasnya yang tidak diragukan akhirnya dia diproyeksikan ke jenjang yang lebih tinggi, yakni PSIS U-20.

Pratama Arhan Alif Rifai berfoto bersama pemain Timnas U-19 lainnya. (MURIANEWS/Istimewa)

Arho tidak menyangka, di sela-sela kesibukannya sebagai pemain PSIS, rupanya dia mendapat panggilan untuk mengikuti pemusatan pelatihan Timnas U-19 di Cikarang.

“Tiba-tiba ada pemanggilan TC timnas di Cikarang waktu itu saya agak minder. Saingannya pemain sudah berpengalaman juga,” ujar Arho, Kamis (12/11/2020).

Kemudian Arho diterbangkan ke Thailand untuk mengikuti pemusatan pelatihan Timnas U-19. Sepulang dari situ, Arho juga sempat dipanggil untuk turut serta dalam latihan timnas senior pada Februari 2020.

“Ada pemanggilan timnas senior saya dipanggil lagi alhamdulillah. Terkejut kaget juga waktu itu,” ujarnya.

Kemudian, Arho kembali harus menjalani pemusatan pelatihan Timnas U-19 di Kroasia. Bek kiri andalan Shin Tae-yong selama dua bulan latihan di sana. “Banyak sparing antarnegara terus friendly match dengan tim kuat di sana di Kroasia,” ujarnya.

Banyak asam garam yang mampu dipetik Arho selama di Kroasia. Selain digembleng dengan latihan yang disiplin, dia juga berkesempatan tanding melawan sejumlah tim dari berbagai negara. Dari situ Arho menunjukkan kualitasnya.

“Kalau itu pertama main (di luar negeri) agak punya pikiran minder. Tapi berjalannya waktu, oh ternyata sama saja. Cuma kalah postur saja. Kita harus lebih kerja keras agar lebih unggul,” terangnya.

Meski didapuk sebagai pemain belakang, dia juga kuat dalam menyerang. Terbukti dia mampu mencetak satu gol dan dua assist selama pemusatan di Kroasia.

Selain itu, Arho juga dikenal memiliki lemparan yang kencang. Pada uji coba melawan Qatar di Kroasia, Arho mampu mencetak assist lewat lemparan kencangnya yang disambut Saddam Gaffar.

Lemparan super kencang yang dimiliki Arho tidak sedikit pecinta sepak bola Indonesia berdecak kagum karenanya. Lemparan itu tidak ubahnya seperti tendangan. Beberapa kali terbukti, Arho mampu membuat assist yang berujung gol dari lemparannya.

Arho mengaku tidak ada teknik khusus bagi dalam melakukan lemparan. Dia baru sadar kalau lemparannya begitu kencang saat tergabung di Terang Bangsa Semarang. Saat itu, dia tengah menjalani laga Piala Gubernur di Purwokerto.

“Waktu itu saya coba ternyata bisa. Tidak ada teknik khusus. Saya lempar ya lempar saja, seperti orang lain lempar,” katanya.

Karirnya yang moncer seperti saat ini tak luput dari dukungan keluarga. Sejak kecil keluarga sangat mendukung cita cita Arho menjadi pemain sepak bola.

Tidak ada yang bisa diandalkan selain doa dan harapan sebagai orangtua bagi Surati. Dia juga tidak menyangka jika kini anaknya memperkuat timnas. Yang pasti, sejak Arho mulai mengenal sepak bola, sejak saat itu juga Surati menaruh harapan berikut dukungan penuh.

“Kedua anak saya sangat saya banggakan. Arho dulu setiap main pasti saya terus mendukung, dan menonton secara langsung, tapi sekarang hanya menonton dari TV karena jauh. Namun begitu saya terus berdoa untuk kelancarannya,“ jelas sang ibu, Surati.

Sang Ayah, Sutrisno menyebut hanya dukungan dan doa yang bisa diberikan. Terlebih, lebih dari 20 tahun Sutrisno mengidap penyakit dalam. Terkahir dia divonis mengalami gangguan liver dan jantung.

Karena Sutrisno mengalami gangguan kesehatan, kontan yang menjadi tulang punggung dalam memenuhi kebutuhan keluarga adalah Surati.

Untuk mencukupi kebutuhan Surati mejadi pedagang sayur keliling di kampungya. Meski begitu, dia selalu menyempatkan diri untuk datang ke lapangan untuk menyaksikan sang anak saat bertanding. Hanya saja, keterbatasan biaya membuatnya datang menyaksikan pertandingan anaknya selama masih bisa dijangkau olehnya.

Kini sebagai orangtua, Surati tidak berharap banyak kepada Arho kecuali menjadi anak yang mampu menjaga perilakunya. Di sisi lain, dia juga berpesan agar selalu menjadi pribadi yang rendah hati dalam kondisi dan keadaan apa pun.

 

Kontributor: Priyo
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...