Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Sukun Samping
Sukun Samping

Nganten Mubeng Masjid Wali, Tradisi yang Masih Dilestarikan Trah Loram di Kudus

MURIANEWS, Kudus – Tradisi Nganten Mubeng masih dilestarikan di Kabupaten Kudus. Terutama bagi Trah Loram, baik yang ada di Loram Wetan maupun Loram Kulon di Kecamatan Jati, Kudus.

Mitos yang beredar, jika tradisi ini tidak dilakukan maka akan terjadi sesuatu. Tradisi ini dilakukan oleh para pengantin di Masjid Wali Kudus.

MURIANEWS mencoba menemui salah seorang yang pernah melakukan tradisi Nganten Mubeng. Dia juga salah satu pengurus Masjid Wali, Desa Loram Kulon.

Namanya Muhammad Thirozul Ahyar. Dia menyampaikan tidak ada aturan pasti bahwa seorang pegantin harus mubeng (berkeliling). Namun, karena sudah menjadi tradisi, Nganten Mubeng tetap dilakukan.

“Secara syariat tidak diwajibkan. Tidak ada aturan secara pastinya. Ini lebih ke budaya. Tradisi sejak saya kecil sudah ada,” katanya, Selasa (10/11/2020).

Soal mitos terjadi hal yang tidak diinginkan jika tidak melakukan Nganten Mubeng, Thiroz menyampaikan kembali ke kepercayaan masing-masing.

“Yang tidak mubeng tidak terjadi apa-apa ya ada. Yang tidak mubeng terjadi sesuatu ya ada. Tergantung keyakinan,” ujarnya.

Lebih lanjut, dia mengatakan memang pernah mendengar kejadian kurang mengenakan yang menimpa seseorang yang tidak melakukan Nganten Mubeng.

“Kalau denger-denger ya ada. Entah itu terjadi pada yang rewang (membantu saat pesta), maupun menimpa orang yang tidak melakukan mubeng. Misalnya jatuh sakit atau tidak kunjung diberi keturunan. Terus soal nasi yang nggak mateng-mateng saat punya gawe memang terjadi dan nyata,” sambungnya.

Pria kelahiran Kudus, 24 Juli 1980 itu menunjukkan tata cara nganten mubeng. Yakni pengantin masuk melalui pintu Gapura Padureksan Masjid Wali bagian selatan. Lalu mengisi kas dan mengisi buku tamu. Kemudian keluar lewat gapura sebelah utara.

“Setelah keluar dari gapura sebelah utara, kemudian kedua pengantin menghadap ke bagian barat dan membaca tulisan Arab yang terdapat di pintu bagian tengah,” jelas dia.

Thiroz berharap masyarakat bisa melestarikan budaya tersebut. “Harapannya sebagai warga bisa melestarikan budaya yang sudah diajarkan sesepuh. Sifatnya kan tidak melanggar syariat. Melainkan untuk mendidik, bersedekah, dan ngalap berkah,” harapnya.

 

 

Reporter: Vega Ma’arijil Ula
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...