Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Kabar Gembira! Karimunjawa Jepara dan Muria Ditetapkan Sebagai Cagar Biosfer Unesco

MURIANEWS, Jepara -Kawasan Karimunjawa Jepara-Muria seluas kurang lebih 1.236.083,97 hektare, akhirnya menjadi salah satu kawasan yang ditetapkan sebagai Cagar Biosfer oleh Unesco. Selain kawasan ini, tahun ini Unesco juga menetapkan dua wilayah lain sebagai Cagar Biosfer di Indonesia.

Dua kawasan itu adalah Cagar Biosfer Bunaken Tangkoko Minahasa (746.412,54 Ha) dan Cagar Biosfer Merapi Merbabu Menoreh (254.876,75 ha). Cagar Biosfer ini ditetapkan oleh Unesco pada tahun ini, bersama dengan 21 kawasan Cagar Biosfer di seluruh dunia.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jepara Elida Farika menyatakan, penetapan Karimunjawa Jepara-Muria sebagai Cagar Biosfer oleh Unesco adalah sebuah kebanggaan. Sebelumnya, sejak 2018 Pemerintah Kabupaten Jepara bersama Kabupaten Pati dan Kudus, Dinas Lingkungan Hidup dan kehutanan Provinsi Jawa Tengah, tim LIPI, dan Kementrian LHK RI mengusulkan Karimunjawa Jepara Muria sebagai cagar biosfer Unesco.

Kawasan Cagar Biosfer Karimunjawa Jepara Muria (KJM) mencakup tiga Kabupaten di Jawa Tengah yaitu Kepulauan Karimunjawa dan Pegunungan Muria (di wilayah Jepara, Kudus dan Pati).

Keberhasilan Pengusulan Karimunjawa Jepara Muria  (KJM) bagian dari Program Man and Biosphere (MAB) UNESCO adalah merupakan kerja keras dukungan para pihak. Apalagi pengelola cagar biosfer bersifat multistakeholder yang terdiri atas pengelola kawasan konservasi, pemerintah daerah baik provinsi maupun kabupaten/kota, perguruan tinggi, LSM, swasta, maupun masyarakat lokal.

“Cagar biosfer merupakan kawasan yang terdiri dari ekosistem darat, pesisir, dan laut yang diakui keberadaanya di tingkat Internasional sebagai bagian dari Program Man and Biosphere (MAB) UNESCO. Cagar biosfer merupakan suatu konsepsi pengelolaan kawasan yang mengintegrasikan kepentingan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dengan kepentingan pembangunan sosial ekonomi yang berkelanjutan sebagai upaya untuk mewujudkan keseimbangan hubungan antara manusia dengan alam dan lingkungannya (biosfer),” ujar Elida Farika, Senin (9/11/2020).

Dia menjelaskan, cagar biosfer juga merupakan situs, wadah, dan sekaligus sebagai wahana untuk memobilisasi dan mengintegrasikan kekuatan serta kepentingan semua stakeholders dalam mewujudkan kawasan pembangunan berkelanjutan.

Cagar Biosfer ini juga memiliki 3 fungsi utama, yakni fungsi konservasi keanekaragaman hayati (genetik, spesies dan ekosistem, fungsi pembangunan ekonomi secara berkelanjutan dan fungsi logistic support seperti penelitian, pendidikan, monitoring, dan evaluasi).

Untuk mengimplementasikan ketiga fungsi utama tersebut, pengelolaan Cagar Biosfer dilakukan dalam sistem zonasi, yaitu zona inti sebagai area konservasi sumber daya hayati dan ekosistem, zona penyangga sebagai area penyangga kehidupan area inti dan sebagai jembatan pengembangan sumber daya hayati di area transisi, serta zona transisi sebagai area pengembangan terutama kegiatan produksi untuk kepentingan pembangunan ekonomi berkelanjutan.

“Dengan diakuinya sebagai Cagar Biosfer untuk kawasan KJM, tentu diharapkan akan bisa bermanfaat bagi masyarakat. Kami tentu sangat bangga dan merasa terhormat, karena kawasan KJM diakui oleh Unesco. Selanjutnya tentu menjadi tanggung jawab kita semua untuk mengelola dan mengambil kemanfaatannya,” tambah Elida Farika.

 

Reporter: Budi Erje
Editor: Supriyadi

Comments
Loading...