Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Sudah Masuk Musim Hujan, Warga Grobogan Diminta Waspada Bencana

MURIANEWS, Grobogan – Pjs Bupati Grobogan Haerudin meminta masyarakat untuk bersikap waspada terhadap kemungkinan munculnya bencana alam seiring sudah masuknya musim hujan. Baik berupa bencana banjir, tanah longsor atau angin puting beliung.

Permintaan itu disampaikan Haerudin dalam apel siaga bencana dan gelar pasukan penanganan bencana yang dilangsungkan di halaman Setda Grobogan, Senin (2/11/2020).

“Apel ini sengaja diselenggarakan dengan tujuan adanya sinergi dan kesiapsiagaan dalam menghadapi berbagai kemungkinan risiko terjadinya bencana alam. Meski demikian, kita tentunya berharap agar tidak ada bencana yang terjadi di Grobogan,” katanya.

Ia meminta kepada pihak BPBD untuk lebih sigap dalam penanganan bencana. Upaya monitoring kondisi lapangan perlu terus dilakukan setiap saat. Harapannya, jika terjadi bencana bisa meminimalisir korban jiwa maupun harta benda.

“Bencana alam ini tidak bisa diprediksi kapan datangnya. Untuk itu, sikap waspada selalu kita lakukan agar bisa mempercepat upaya penanganan,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Haerudin mengajak peran serta seluruh komponen masyarakat dalam penanggulangan dan pencegahan terjadinya bencana.

“Dalam penanggulangan dan pencegahan bencana ini, tidak bisa dilakukan oleh pemerintah saja. Kita butuh dukungan dan peran serta dari seluruh komponen masyarakat,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala BPBD Endang Sulistyoningsih mengungkapkan, berdasarkan peta geografis, Kabupaten Grobogan memang cukup rentan bencana. Sebab, letaknya berada di daerah cekungan perbukitan atau lembah. Yakni, antara perbukitan Pegunungan Kendeng Utara dan Kendeng Selatan.

Meski demikian, pihaknya akan berupaya untuk meminimalkan terjadinya bencana alam di wilayahnya.

Sejauh ini, sudah cukup banyak langkah yang diambil dalam kaitannya dengan penanganan bencana tersebut. Misalnya, pembuatan embung, reboisasi, normalisasi sungai dan perbaikan tanggul.

Menurut Endang, data hingga akhir September 2020, sudah terjadi beberapa kali bencana alam. Yakni, banjir sudah ada empat kali kejadian di beberapa lokasi. Dampak banjir ini mengakibatkan dua korban jiwa, 70 rumah rusak berat dan 307 rusak ringan.

Kemudian, bencana tanah longsor sudah ada enam kali kejadian yang mengakibatkan satu korban jiwa dan delapan rumah rusak ringan.

“Sedangkan untuk bencana puting beliung sudah terjadi satu kali yang mengakibatkan satu rumah rusak ringan,” jelasnya.

 

Reporter: Dani Agus
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...