Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Sehari Kantongi Rp 40 Ribu dari Jualan Mangga, Kakek 71 Tahun di Kudus Ini Punya Prinsip Tak Mau Repotkan Anak

MURIANEWS, Kudus – Mbah Ngadimin (71) Warga Desa Gondosari, Kudus, menjalani profesinya sebagai penjual mangga sejak masih usia 20 tahun. Dalam sehari, warga RT IV, RW IX itu hanya mampu mengantongi sekitar Rp 40 ribu.

Menurutnya jumlah tersebut terbilang pas-pasan. Namun, dia memiliki prinsip yang penting tidak merepotkan anak.

Ngadimin dulunya berjualan ketela dan jagung. Namun, saat ini dia hanya berjualan mangga saja.

Deretan mangga terletak di bak kendaraan roda tiga milik Ngadimin. Di kendaraan yang sudah dimilikinya sejak enam tahun silam itu terdapat beberapa jenis mangga. Mulai dari manalagi, badung, dan bapang.

Harga mangga itu bervariasi. Untuk manalagi sekilo seharga Rp 10 ribu. Sedangkan badung harganya Rp 12 ribu. Untuk mangga bapang dijualnya dengan harga Rp 8 ribu.

Ngadimin menimbang mangga yang dijualnya. (MURIANEWS/Vega Ma’arijil Ula)

Dalam sehari, pria kelahiran 1949 itu hanya mampu menghasilkan uang Rp 40 sampai Rp 50 ribu dari jualan mangga. Dia biasa menjajakan mangganya setiap hari pukul 05.00 WIB sampai 16.00 WIB.

Sedinten pikantuk sekawan ndoso niku itungane ngepas. Tapi nggih sampun saged kagem nguripi kula. Sing penting mboten ngrepoti lare-lare (sehari dapat Rp 40 ribu itu mepet. Tapi sudah bisa untuk menghidupi saya. Yang penting tidak merepotkan anak-anak,” ujarnya.

Lokasi berjualannya berpindah-pindah. Mulai dari perempatan Menawan, kawasan pabrik rokok Sukun, Kawasan Menara Kudus, dan di kawasan sekitar RS Mardirahayu.

Tidak dipungkiri, dia merasa kesulitan menjajakan dagangannya. Sebab, rata-rata pembeli mengeluhkan ukuran mangga yang dijualnya.

Nek dodolan ting kuto niku kangelan. Rata-rata sanjang nek peleme kok cilik (Kalau jualan di kota itu kesulitan. Rata-rata pembeli berkata mangganya kok kecil),” sambungnya.

Lebih lanjut, kendati hasil yang didapat pas-pasan, Ngadimin mengaku tetap bersyukur. Baginya yang terpenting tidak merepotkan anak-anaknya.

Enak mergawe ngeten. Sehat. Mboten pengen ngrepoti anak wong tasih kiyat mbut gawe kiyambak (enak kerja seperti ini. Sehat. Tidak ingin merepotkan anak, saya masih sanggup bekerja),” imbuhnya.

 

Reporter: Vega Ma’arijil Ula
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...