Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Kasus Suap PDAM Kudus: Pegawai Ngaku Sempat Diancam Akan Dibunuh

MURIANEWS, Semarang – Sebanyak tiga orang saksi dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam sidang lanjutan kasus suap pengangkatan pegawai PDAM Kudus atas terdakwa Direktur PDAM Kudus Ayatullah Humaini, Selasa (20/10/2020).

Tiga pegawai tersebut, diketahui bernama, Setiadi Irfan, Aditya Prabowo, dan Ramadhoni. Mereka, seluruhnya merupakan pegawai kontrak yang diangkat Humaini menjadi pegawai tetap.

Di persidangan, saksi Aditya mengaku jika Humaini sempat mengumpulkan hampir semua pegawai kontrak di sebuah rumah makan di Kudus. Pengumpulan tersebut, dilakukan usai terjadinya peristiwa Operasi Tangkap Tangan (OTT) pada tersangka Toni beberapa hari sebelumnya.

Di rumah makan tersebut, lanjut dia, semua pegawai kontrak yang berjumlah sekitar 20 orang disumpah untuk tidak menyebut nama Direktur Ayatullah Humaini jika dimintai keterangan oleh kejaksaan negeri Kudus.

“Kami juga diminta untuk tidak mengaku jika dalam pengangkatan pegawai ada pungutan uang,” katanya.

Dalam persidangan, Aditya juga mengaku jika Humaini mengancam semua karyawannya untuk dipidanakan jika tak menuruti perintahnya. Bahkan, ancaman akan dibunuh juga sempat diutarakan oleh Humaini.

“Jika saya tidak terbukti (terkait OTT), maka akan saya perkarakan. Orangnya akan saya cari dan akan saya bunuh,” seru Aditya yang menirukan perkataan Humaini di persidangan.

Saksi Aditya dan Setiadi sendiri merupakan pegawai kontrak yang diangkat Humaini menjadi pegawai tetap. Saat melamar menjadi pegawai kontrak, mereka mengaku mengikuti dengan prosedur yang benar.

“Saat itu ikut seleksi zamannya sebelum pak direktur (Humaini), saya diangkat jadi pegawai tetap di 2020 setelah pak direktur diangkat. Tapi kemudian dihubungi Toni untuk memberikan uang terima kasih sebesar Rp 35 juta, tapi saya tidak mau,” tegas Aditya.

Kemudian untuk saksi Ramadhoni, pihaknya mengaku sudah membayar Rp 75 juta sebagai kompensasi pengangkatan dirinya dari pegawai kontrak menjadi tetap.

Jumlah tersebut, awalnya dibayar Rp 10 juta sebagai uang muka. Kemudian sisanya Rp 65 juta diberikan setelah SK pegawai tetap diterima.

“Saya waktu itu ambil pinjaman di Bank, difasilitasi sinToni. Uangnya cair, langsung saya berikan ke pak Sukma Oni yang sudah menunggu di samping bank,” tandasnya.

Untuk diketahui, tiga orang telah ditetapkan sebagai terdakwa dalam kasus suap pengangkatan pegawai di Perusda PDAM Kudus. Ketiganya, yakni Dirut PDAM Kudus Ayatullah Humaini, pemilik KSP Mitra Jati Mandiri Sukma Oni Iswardani, dan pegawai PDAM Kudus Toni Yulantoro.

Mereka, dijerat dengan Pasal 12 Huruf e atau Pasal 11 atau Pasal 5 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

 

Reporter: Anggara Jiwandhana
Editor: Supriyadi

Comments
Loading...