Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Dua Penangkap Maling Ditahan, Warga Glodongan Geruduk Kejari Klaten

MURIANEWS, Klaten — Kantor kejaksaan Negeri (Kejari) Klaten digeruduk warga Dusun Getasan, Desa Glodogan, Kecamatan Klaten Selatan, Kabupaten Klaten, Senin (19/10/2020). Mereka menuntut Kejari Klaten membebaskan dua orang penangkap maling sepeda yang justru ditahan, yakni Sapto dan Rohmad.

Dalam aksi tersebut warga datang dengan membawa keranda mayat berwarna hijau. Mereka juga membawa spanduk bertuliskan “Turut Berduka Atas Matinya Hukum Kita #SaveSapto #SaveRohmad”.

Langkah itu dilakukan karena mereka menilai hukum hanya tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Petugas keamanan di gerbang Kejari Klaten hanya memberikan izin ke perwakilan warga Getasan untuk masuk ke kantor Kejari Klaten menyampaikan aspirasi mereka.

Di saat perwakilan warga menemui Kepala Kejaksaan (Kajari) Klaten Edi Utama dan Kepala Seksi Pidana Umun (Kasipidum) Kejari Klaten Adi Nugraha, beberapa warga lainnya berorasi di depan gedung Kejari Klaten.

Baca: Pelajar SMA di Klaten Gantung Diri di Belakang Rumah, Sang Ayah Histeris

Mosok nyekel maling malah ditahan (Masa menangkap pencuri justru ditahan),” teriak warga di depan Kejari Klaten seperti dikutip Solopos.com, Senin (18/10/2020).

Aksi warga Getasan di depan Kejari Klaten itu sebagai akibat langkah aparat penegak hukum yang dinilai tak adil dalam menangani kasus maling sepeda angin di Getasan, Glodogan. Peristiwa pencurian tersebut terjadi sekitar 1,5 tahun silam.

Saat itu, Sapto dan Rohmad sedang beraktivitas di bengkel las hingga tengah malam. Di tengah aktivitasnya, keduanya melihat ada seseorang yang mencurigakan dengan masuk ke pekarangan milik warga Getasan bernama Sugeng.

Tak berselang lama, orang yang belakangan diketahui bernama Yuniadi Isnianto alias Londo itu keluar dari pekarangan Sugeng dengan mengayuh sepeda angin jenis mountain bike. Di saat itu lah, Sapto dan Rohmad mendekati Londo untuk memintanya berhenti. Tapi, permintaan itu tak didengarkan dan langsung kabur.

Melihat Londo kabur, keduanya mengejar mengendarai sepeda motor. Sebelum mengejar Londo, Sapto dan Rohmad meminta Sugeng mengecek apakah sepeda angin miliknya telah dicuri orang.

Baca: Pemuda di Kudus Ini Punya Koleksi Jersey Persiku Match Worn Hampir Semua Musim

Akhirnya Londo di lokasi yang berjarak 1 km dari rumah Sugeng. Saat dipepet, Londo justru menonjok Sapto yang masih mengendarai sepeda motor. Akhirnya, Rohmad selaku penumpang sepeda motor menendang roda sepeda dan membuat pelaku tersungkur ke jalan.

Saat melakukan pengejaran, Sapto sempat berteriak-teriak ada maling dan mengundang kehadiran warga di kawasan Glodogan, Klaten Selatan.

Warga langsung berkumpul secara bergelombang di lokasi Londo tertangkap. Di tengah keramaian itu, ada warga yang memberitahu ke Sapto bahwa Londo merupakan warga Glodogan juga.

Sepeda angin yang dicuri Londo segera dikembalikan ke pemiliknya. Setelah itu, orang tua Londo sempat datang ke rumah Sapto untuk meminta maaf atas perbuatan anaknya yang telah bikin onar di tengah malam.

Baca: Klaster Demo Muncul di Semarang, 11 Orang Positif Covid-19

“Tapi, paginya justru ada laporan itu [laporan penganiayaan]. Sebelum ditahan, sebenarnya sudah ada mediasi juga [hingga pihak Sapto dan Rohmad mengeluarkan uang Rp 18 juta. Meski seperti itu, kasus pelaporan penganiayaan terus berlanjut hingga ke penahanan],” kata Ari Widiastono, selaku kakak kandung Sapto, saat ditemui wartawan di gedung Kejari Klaten.

Salah seorang tetangga Sapto, yakni Widiatmoko, 43, berharap Sapto dan Rohmad segera dibebaskan. Saat penyidikan berlangsung di Polres Klaten, Sapto dan Rohmad tidak ditahan. Begitu kasus tersebut ditangani Kejari Klaten, Sapto dan Rohmad ditahan penyidik Kejari Klaten dalam waktu dua pekan terakhir.

“Kami minta agar Sapto dan Rohmad dibebaskan,” kata Widiatmoko 43, saat ditemui wartawan di depan kantor Kejari Klaten, Senin.

Hal senada dijelaskan Muhammad Romidi Sri Kusuma selaku penasihat hukum Sapto dan Rohmad. Urusan Sapto dan Rohmad sempat dimediasi dan berakhir damai dengan adanya surat pernyataan.

Baca: Gubernur Ganjar Ajak Demonstran Penolak UU Cipta Kerja Nyanyi Dangdut

“Saya mengajukan penangguhan penahanan. Saya juga akan melakukan upaya hukum terkait dugaan pemerasan atau pun harus ada keadilan di sini. Sebenarnya enggak perlu seperti ini. Orang berbuat baik kok dipidana,” katanya.

Sementara itu, Kepala Seksi Pidana Umum (Kasipidum) Kejari Klaten Adi Nugraha mengatakan penyidik Kejari Klaten sudah bekerja secara profesional dalam menangani kasus tersebut. Penanganan kasus itu berdasarkan pelimpahan berkas dari penyidik Polsek Kota.

“Korban penganiyaan ini mencuri sepeda. Alasan penahanan terhadap tersangka Sapto dan Rohmad karena ancaman hukuman di atas lima tahun. Perlu diketahui juga, hingga ada pelimpahan tahap II, belum ada perdamaian. Kami hanya melihat dari keterangan BAP [berkas acara pemeriksaan]. Kasus itu saat sekarang sudah dilimpahkan ke pengadilan. Soal laporan pencurian sepeda [yang dilakukan Londo], kami belum menerima berkasnya,” katanya.

Sebagaimana diketahui, Sapto dan Rohmad dijerat Pasal 170 jo 351 tentang Penganiayaan dengan ancaman hukuman di atas 5 tahun penjara. Sapto dan Rohmad ditahan penyidik Kejari sejak 7 Oktober 2020.

Sapto dan Rohmad dianggap telah menganiaya Londo hingga mengalami luka. Bertindak sebagai pelapor kasus penganiayaan yang dilakukan Sapto dan Rohmad, yakni Slamet yang dikenal sebagai ayah Londo.

 

Penulis: Supriyadi
Editor: Supriyadi
Sumber: Solopos.com

Comments
Loading...