Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Suluk Maleman: Menjadi Manusia yang Berkeadaban

 

MURIANEWS, Pati – Dewasa ini, banyak orang yang sudah mulai lupa dengan identitas kebangsaan, hanya karena dorongan materialisme dan kekuasaan. Padahal, dalam Pancasila sudah dijelaskan secara gamblang, untuk menjadi masyarakat Indonesia harus memegang teguh konsep kemanusiaan yang adil dan beradap.

Representasi beradab dalam sila kedua Pancasila itu, menjadi perbincangan hangat dalam Suluk Maleman edisi 106 yang digelar secara daring, Sabtu (17/10/2020) malam tadi.

“Jangan ngaku orang paling NKRI kalau tak bisa memanusiakan manusia. Karena jelas dalam Pancasila itu disebutkan Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Adab menjadi salah satu landasan dari negara ini,” tutur Anis Sholeh Ba’asyin, penggagas Suluk Maleman.

Konsep keadaban itu menurutnya,bahkan lebih kuat ketika masuk dalam wilayah Jawa. Adab ini tidak hanya sekadar makna, terapi juga manifestasi bangsa yang saat ini mulai luntur.

Implementasi seperti unggah-ungguh, sopan santun dan tindak tanduk dalam interaksi sosial adalah wujud manusia yang beradab itu sendiri. Dalam ejawantah kebahasannya, ada beragam tutur ketika diterapkan.

“Bahkan dari bahasanya pun sudah begitu terlihat tatanan unggah-ungguhnya. Dengan bertingkat mulai dari bahasa ngoko,kramoa, madya hingga kromo inggil. Lewat bahasa, orang Jawa sudah dididik sejak awal untuk bisa menjaga adab pergaulan dengan saling menghormati satu dengan yang lain,” imbuhnya.

Di sisi lain, ajaran Islam menekankan bahwa salah satu fungsi pemimpin adalah menjadi contoh dalam laku beradab. Dasar kepemimpinan dalam Islam adalah kebertanggungjawaban. Dan itu menurutnya adalah bagian dari adab keterdidikan.

“Dalam tradisi Jawa juga dikenal adanya Sabda Pandita Ratu. Seorang raja dalam mengucapkan sesuatu atau mengambil kebijakan tertentu harus sudah dipikirkan matang-matang. Karena tidak mungkin diubah-ubah. Jika hal itu dilakukan seorang raja tentu dia akan kehilangan kewibawaannya,” terangnya.

Hanya, sekarang banyak yang mengesampingkan adab tersebut. Seorang presiden di Amerika misalnya, bisa memaki-maki di depan umum hanya demi kekuasaan. Hal itupun terjadi di banyak level dan negara.

“Begitu pula jika dilihat di media sosial. Bagaimana seorang alim bisa dicaci begitu saja. Padahal dalam Islam penyampaian kebenaran pun harus dilakukan dengan kebijaksanaan dan penyampaian yang baik. Islam sangat menekankan soal adab,” tegasnya.

Dalam ngaji budaya itu turut menghadirkan sejumlah narasumber. Seperti Drs. Ilyas, Dr Abdul Jalil, dan Dr. Agus Pranomo. Para narasumber juga bersepakat pentingnya menjaga adab dan peradaban.

 

Reporter: Cholis Anwar
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...