Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Brigpol Shita, Istri Kapolres Kudus yang Ditugaskan Jadi Pasukan PBB ke Sudan Lima Hari Usai Menikah

MURIANEWS, Kudus – Raut wajah berseri-seri dan bahagia terpancar dari wajah polwan cantik bernama Brigpol Mashita Cherani Asaat Said Ali (30). Pasalnya, kini Shita (sapaan akrabnya) sudah bisa berkumpul dengan keluarganya, setelah selama kurang lebih satu setengah tahun bertugas sebagai pasukan kontingen Satgas Garuda Bhayangkara 11 FPU Unamid (United Nations-African Union Mision in Dafur).

Ia yang menjadi salah satu personel pasukan perdamaian PBB  yang ditugaskan ke Golo, Sudan, Afrika. Saat Polri mengirimkan 140 personel kepolisian dan 15 di antaranya merupakan polwan.

Shita berangkat bertugas setelah baru beberapa hari melangsungkan akad nikah dengan Kapolres Kudus AKBP Aditya Surya Dharma. Ia baru saja tiba di Indonesia pada 6 September 2020 lalu, setelah menyelesaikan penugasannya di Sudan.

“Saya sama suami melangsungkan akad itu sebelum saya bertugas pada 24 Februari 2019. Baru lima hari menikah pada 8 Maret 2019 saya harus kembali berangkat lagi ke pra Ops Unamid,” katanya.

Ia mengakui baru merasakan menjadi pengantin baru, saat setelah pulang bertugas dari Sudan. Ia pun kini ditugaskan di Biro SDM Polda Sulawesi Tengah.

Brigpol Mashita Cherani Asaat Said Ali (30) saat ditemui di Rumah Dinas Kapolres Kudus. (MURIANEWS/Yuda Auliya Rahman)

Shita pun mencerikan bagaimana pengalamannya saat bertugas di Sudan. Ia mengaku merasakan langsung kegetiran, kesulitan dan konflik di sana. Itu semua menurutnya menjadi pengalaman bertugas yang sangat berharga.

Apalagi dengan cuaca yang menurutnya sangat panas hingga 36 derajat celsius. Namun, saat jika cuaca dingin, suhunya bisa turun sampai 7 derajat celsius.

“Jadi kami dibatasi tidak boleh keluar camp. Itu sudah peraturan dari PBB. Kami boleh keluar camp dengan full gear. Dan itupun kegiatan kedinasan, seperti melindungi masyarakat sipil, hingga berbagi pengalaman kepada kepolisian setempat, bukan untuk jalan-jalan. Di dalam camp juga harus pakai gear itu seberat 12 kilogram harus dipikul setiap hari,” ujar polwan kelahiran Surabaya 4 Agustus 1990 itu.

Selain selalu membopong peralatan yang berat, ia juga berada di tengah ancaman konflik. Tak jarang peluru dari dua kelompok yang sedang bertikai.  Namun pihaknya tidak membantu salah satu pihak karena misinya untuk perdamaian.

“Jadi peluru nyasar itu sering sekali saat mereka terlibat kontak senjata dari bukit ke bukit. Suara tembakan juga sudah biasa terdengar. Kami hanya diam, tidak bisa memihak salah satu kubu. Krena misi kami di sana untuk melindungi masyarakat sipil,” ungkapnya

Ia juga menceritakan kondisi kehidupan di sana. Saat musim kemarau kebutuhan air bersih sangatlah sulit. Terkadang ada yang tidak mandi selama tiga hari, jatah air bersih saat kemarau satu orang hanya satu ember dalam sehari.

“Satu ember itu buat mandi, nyuci, buang air. Harus bisa ngaturnya, jadi saat mandi airnya jangan dibuang buat nyuci. Kalau sudah susah, air mandinya ember ditaruh di atasbiar tidak kebuang airnya. Karena air kotorpun di sana sangat berharga,” jelasnya.

Di tempat tugasnya tersebut, kendaraan disana masih minim. Warga disana memakai onta dan keledai sebagai alat transportasi yang jalannya sangat pelan. Untuk berkomunikasi dengan warga ia memakai bahasa Arab.

“Komunikasi pakai bahasa Arab, tapi bukan bahasa arab seperti di Makah, bahasa arab Sudan. Sebelum berangkat ada pelatihan bahasa selama satu bulan,” ucapnya.

Selama bertugas, ia tidak bisa dengan intens berkomunikasi dengan suaminya. Sebab di sana  jatah berkomunikasi (online) empat hari sekali. Pasalnya, jatah berkomunikasi harus dibagi dengan empat pleton secara bergiliran. Jaringan komunikasi juga menurutnya sangat sulit.

“Jatah onlinenya seperti itu, pakai WiFi dibagi di empat pleton dari alfa hingga delta. Komunikasinya pakai video call Google Duo,” akunnya.

Setelah tugasnya selesai dan tiba di Tanah Air, ia juga masih harus menjalani karantina selama 14 hari sesuai perintah dari Kapolri untuk mencegah Covid–19.

Sebenarnya, seusai pulang dari bertugas ia mempunyai rencana untuk melangsungkan resepsi pernikahannya dengan Kapolres Kudus. Namun, pelaksanaan resepsi tersebut ditunda lagi melihat kondisi saat ini sedang pandemi.

“Rencana bulan madu setelah bertugas awalnya juga ada. Tapi masa pandemi seperti ini, hal itu harus di pertimbangkan dulu,” tandasnya.

 

Reporter: Yuda Auliya Rahman
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...